Rupiah Menguat ke Rp17.731, Pasar Cermati Suku Bunga The Fed

Rupiah Menguat ke Rp17.731, Pasar Cermati Suku Bunga The Fed
Ilustrasi rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat pada awal perdagangan Jumat (18/9/2026). Per pukul 09.18 WIB, kurs rupiah berada di level Rp 17.731 per dollar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang garuda terapresiasi 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya yakni Rp 17.753 per dollar AS.

Adapun, indeks dollar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,01 persen ke posisi 100,237.

Pergerakan rupiah pada perdagangan akhir pekan ini masih dipengaruhi kebijakan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai keputusan The Fed menjadi sinyal bahwa risiko pengetatan kebijakan moneter telah berubah menjadi aksi nyata. Kenaikan 25 basis poin merupakan kenaikan suku bunga pertama yang dilakukan The Fed dalam tiga tahun terakhir.

Menurut mereka keputusan The Fed menaikkan suku bunga terjadi di saat kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja AS yang masih kuat. Bahkan, aktivitas ekonomi Paman Sam masih didukung oleh belanja masyarakat, produktivitas, investasi, serta kondisi ketenagakerjaan.

Namun, tekanan inflasi masih menjadi perhatian bank sentral AS. BRIDS memperkirakan inflasi berdasarkan personal consumption expenditures (PCE) mencapai 3,6 persen, sedangkan inflasi inti atau core PCE berada pada level 3,2 persen.

Angka itu masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2 persen.

“Inflasi masih tinggi, estimasi headline PCE 3,6 persen dan core PCE 3,2 persen,” tulis BRIDS dalam riset terbarunya, Kamis siang kemarin.

Selain itu, proyeksi The Fed menunjukkan tingkat suku bunga kebijakan berada di sekitar 4,1 persen hingga tahun depan. Hal ini membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter atau easing dalam jangka pendek menjadi terbatas.

BRIDS memandang sentimen pasar terhadap kebijakan The Fed cenderung hawkish. Risiko kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka apabila inflasi tetap tinggi dan perekonomian AS menunjukkan ketahanan.

Kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja yang kuat memberikan ruang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi belum mereda.

Di sisi lain, risiko geopolitik juga berpotensi menambah tekanan terhadap pasokan dan harga komoditas. Dinamika tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

“IDR berpotensi kembali tertekan, sehingga dapat meningkatkan kebutuhan respons kebijakan BI,” lanjut BRIDS.

Tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian bagi Indonesia karena kebijakan The Fed turut mempengaruhi arus modal dan nilai tukar di negara berkembang. Suku bunga AS yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama dapat membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter di negara lain menjadi lebih terbatas.

Meski demikian, BRIDS menilai siklus pengetatan kebijakan moneter kali ini diperkirakan tidak akan seagresif periode 2022. Pasalnya, The Fed belum memberikan komitmen terhadap jalur kenaikan suku bunga tertentu.

BRIDS mengatakan fokus pasar kini bergeser dari sekadar mengantisipasi risiko pengetatan kebijakan atau “risk of tightening” menjadi memperhitungkan dampak dari pengetatan yang benar-benar telah dilakukan atau “actual tightening”.

Potensi kenaikan suku bunga berikutnya semakin terbuka apabila inflasi AS tetap tinggi dan aktivitas ekonomi menunjukkan ketahanan. Sebaliknya, apabila inflasi mulai moderat atau kondisi pasar tenaga kerja mengalami pelemahan, The Fed berpotensi memperlambat laju kenaikan suku bunga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index