BERITAINTELEKTUAL.COM — Universitas Terbuka (UT) mewisuda 26 mahasiswa Indonesia di Gedung BNI 46 Hong Kong, Minggu (20/9). Para lulusan ini menempuh kuliah jarak jauh sambil bekerja sebagai pekerja migran di Hong Kong.
Wisuda digelar secara hybrid, menggabungkan kehadiran fisik di Hong Kong dengan jaringan daring UT Pusat. Langkah ini menegaskan posisi UT sebagai kampus yang membuka akses pendidikan tinggi tanpa sekat jarak dan tempat.
Direktur UT Layanan Luar Negeri (LLN) Dr. Pardamean Daulay, S.Sos., M.Si. menyatakan wisuda di Hong Kong adalah bentuk komitmen kampus memberikan penghargaan setara bagi mahasiswa di dalam maupun luar negeri.
"Pelaksanaan wisuda UT di Hong Kong merupakan wujud nyata komitmen untuk menghadirkan penghargaan yang setara bagi seluruh mahasiswa, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri," kata Pardamean dalam laporannya.
Siapa yang Diwisuda
Kedua puluh enam wisudawan itu berasal dari beragam program studi, mulai dari ekonomi, sosial, humaniora, hingga sastra. Sebagian besar menjalani perkuliahan di sela-sela jam kerja sebagai pekerja migran.
Mereka menempuh pendidikan tinggi dengan pola belajar mandiri dan tutorial daring yang disediakan UT. Jadwal kuliah yang fleksibel menjadi kunci agar tetap bisa bekerja sekaligus menyelesaikan studi.
Mengapa Wisuda Digelar di Hong Kong
Upacara wisuda UT umumnya berlangsung di UT Pusat, Jakarta. Namun, mahasiswa yang bermukim di luar negeri dinilai perlu mendapat kesempatan merayakan pencapaian akademiknya secara layak.
Penyelenggaraan wisuda di Hong Kong menjadi jawaban atas kebutuhan itu. UT ingin memastikan jarak geografis tidak menjadi penghalang bagi pekerja migran Indonesia untuk meraih gelar sarjana.
Langkah ini sekaligus memperkuat peran UT dalam menyasar komunitas pekerja migran yang selama ini tersebar di berbagai negara. Hong Kong menjadi salah satu kantong terbesar pekerja migran Indonesia di Asia.
Arti bagi Pekerja Migran
Bagi para wisudawan, gelar sarjana membuka peluang karier yang lebih luas sepulang ke Tanah Air nanti. Pendidikan tinggi juga menjadi bekal untuk meningkatkan posisi tawar di pasar kerja, baik di dalam maupun luar negeri.
UT mencatat minat pekerja migran terhadap kuliah jarak jauh terus tumbuh. Program Layanan Luar Negeri UT hadir untuk menjangkau mereka yang tidak bisa meninggalkan pekerjaan demi menempuh pendidikan formal di kampus konvensional.
Wisuda di Hong Kong menegaskan pendidikan tinggi kini bukan lagi hak eksklusif mereka yang bisa hadir di ruang kelas setiap hari. Pekerja migran pun bisa menyelesaikan studi dan merayakan kelulusannya di tempat mereka bekerja.