JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengutarakan bahwa dirinya dalam kurun waktu 10 hari belakangan turut turun tangan secara langsung memonitor alur pengadaan komoditas batu bara PT PLN (Persero).
Langkah ini diambil menyusul terjadinya insiden pemadaman listrik secara bergilir di beberapa area Pulau Jawa. Bahlil bahkan mengibaratkan dirinya memegang peran laiknya seorang manajer proyek atau project manager PLN demi menjamin ketersediaan pasokan batu bara peruntukan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) senantiasa aman.
"Saya 10 hari terakhir, jabatan saya Menteri ESDM merangkap PM PLN pengadaan batu bara, project manager. Jadi ngurus batu bara sekarang. Sampai saya tahu lokasi, cara, bagaimana mengirimnya," ujarnya dalam Energy Forum di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurut pandangannya, keterlibatan aktif tersebut diterapkan guna memastikan problem kelistrikan ini dapat segera dirampungkan serta membendung terjadinya kembali hambatan pasokan energi yang berisiko memicu mati lampu.
Bahlil pun mengaku sudah mengutarakan perihal sikapnya yang memilih mengawal langsung mekanisme pengadaan batu bara di tubuh badan usaha milik negara tersebut kepada Direktur Utama PLN.
"Nah makanya saya dua minggu terakhir ini sudah jadi Project Manager PLN. Saya sudah ngomong sama Pak Dirut PLN, saya jadi Project Manager kau kalau begini," kata dia.
Lebih jauh, Bahlil menaruh harapan agar pihak PLN senantiasa menjalankan fungsi pokoknya selaku korporasi listrik negara dengan baik.
Hal ini lantaran aktivitas operasional PLN berikatan langsung dengan hajat hidup publik, sehingga layanan pemenuhan daya listrik wajib terus dipertahankan keandalannya.
"Kami doakan semoga PLN tetap nama kepanjangannya Perusahaan Listrik Negara, tidak dipelintir ke yang lain-lain, karena bagaimanapun ini PLN ini adalah menyangkut hajat hidup orang banyak," kata Bahlil.
Untuk diketahui, kendala pemadaman listrik di pelbagai zona di wilayah Jawa marak dilaporkan bergulir selama dua pekan belakangan. Situasi tersebut dipicu oleh terganggunya distribusi batu bara menuju fasilitas pembangkit milik PLN, disamping adanya kendala teknis pada dua infrastruktur pembangkit berskala besar.
Kendati begitu, satu di antara dua fasilitas pembangkit tersebut diinfokan telah sukses dipulihkan pada Minggu (21/6/2026) dan kembali mengalirkan energi ke dalam sistem kelistrikan Jawa.
Di sisi lain, volume kontrak pasokan batu bara untuk PLN dilaporkan sudah merangkak naik dari angka awal 134 juta metrik ton (MT) menyentuh 141 juta MT.