JAKARTA - Wakil Ketua Baznas RI, Zainut Tauhit Sa'adi, menekankan urgensi integrasi filantropi Islam—meliputi zakat, infak, sedekah, serta wakaf—sebagai elemen krusial dalam memperkuat penanggulangan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, Zainut memaparkan bahwa potensi besar instrumen filantropi Islam bakal memberikan hasil lebih optimal bila dikelola dalam satu ekosistem terpadu.
Zainut menambahkan, meski setiap instrumen memiliki karakteristik serta fungsi unik, semuanya dapat saling melengkapi guna menciptakan dampak sosial maupun ekonomi yang lebih luas.
"Zakat dapat dimanfaatkan sebagai modal usaha produktif untuk membangun kemandirian ekonomi umat, wakaf dapat digunakan untuk penyediaan aset dan infrastruktur produktif, sedangkan infak dapat mendukung program pelatihan dan pendampingan usaha," kata Zainut.
Zainut memaparkan bahwa filantropi Islam berperan vital sebagai bantuan darurat yang berfungsi sebagai jaring pengaman sosial bagi masyarakat dalam kondisi rentan.
"Karena itu, instrumen-instrumen tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling menguatkan melalui intervensi yang terintegrasi," ujarnya.
Zainut menguraikan bahwa intervensi filantropi Islam bisa dijalankan secara bertahap, mulai dari bantuan darurat dan pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan pascakrisis, pemberdayaan ekonomi, hingga mendorong transformasi sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
Lewat pendekatan tersebut, filantropi Islam diharapkan mampu berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan nasional.
Zainut mendorong transformasi paradigma filantropi dari sekadar amal (charity) menjadi transformasi sosial yang berkelanjutan.
Menurut Zainut, bantuan yang disalurkan semestinya tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan jangka pendek mustahik, tetapi juga harus mampu memicu pemulihan ekonomi, memperluas inklusi ekonomi, serta meningkatkan kemandirian masyarakat.
"Saat ini, kami masih menghadapi tantangan nyata berupa kemiskinan, masalah kesejahteraan sosial, serta kerentanan ekonomi. Kondisi ini memerlukan solusi yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga harus berbasis pada nilai-nilai solidaritas dan nilai-nilai spiritualitas Indonesia," ucap dia.
Zainut berharap sinergi dan integrasi seluruh pilar filantropi Islam dapat terus diperkuat agar mampu menghadirkan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Pasalnya, ia menilai tujuan akhir dari upaya tersebut adalah terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan, adil, dan inklusif, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.