JAKARTA - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku mempertegas langkah untuk menjaga 32 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang ada di Provinsi Maluku. Upaya ini dilakukan melalui penguatan literasi budaya, keterlibatan generasi muda, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Pamong Budaya Ahli Muda BPK Maluku, Mezak Wakim, mengungkapkan di Ambon, Senin, bahwa tantangan utama dalam menjaga budaya di tengah arus modernisasi adalah memastikan nilai-nilai luhur tetap dipahami dan diwariskan ke generasi selanjutnya.
"Tantangan di era modernisasi adalah bagaimana kami mendorong literasi berbasis budaya di sekolah-sekolah, kampus-kampus hingga ke masyarakat umum. Selain itu, bagaimana kami mendorong generasi muda untuk bisa menjadi pelaku langsung dalam melestarikan kebudayaan daerah," katanya.
Ia memaparkan, Maluku saat ini memiliki 32 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, mencakup berbagai tradisi, kesenian, ritual adat, hingga pengetahuan tradisional yang telah diakui secara nasional.
Baginya, pelestarian tidak cukup hanya dengan dokumentasi, tetapi harus diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari agar tetap relevan.
Oleh karena itu, BPK Maluku intensif menjalankan edukasi bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum untuk meningkatkan kesadaran budaya. Selain literasi, mereka juga mendorong pemanfaatan nilai budaya untuk memperkuat ekonomi masyarakat.
Salah satu langkah nyata adalah mengangkat konsep Papalele, tradisi dagang masyarakat Maluku, sebagai identitas dalam pengembangan UMKM.
"Konsep Papalele akan kami jadikan branding tertentu untuk pengembangan UMKM di Maluku. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini sangat kuat, mulai dari semangat kerja, kebersamaan, hingga kemandirian ekonomi masyarakat," ujarnya.
Mezak menambahkan, BPK Maluku rutin mengadakan festival budaya tahunan sebagai sarana promosi. Acara ini menampilkan kekayaan budaya, mulai dari tari, musik, ritual adat, hingga produk khas daerah.
"Kami memiliki festival budaya yang digelar setiap tahun untuk memamerkan keberagaman budaya Maluku agar semakin dikenal masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional," katanya.
Ia berharap program-program ini mampu menjaga kelestarian 32 Warisan Budaya Tak Benda tersebut sekaligus memicu partisipasi aktif anak muda.
Berdasarkan data BPK Maluku, warisan-warisan tersebut tersebar di berbagai wilayah, termasuk Kota Ambon, Tual, hingga Maluku Barat Daya. Khusus untuk Kota Ambon, terdapat lima warisan budaya yang telah ditetapkan, seperti Tari Lenso dan tradisi Cuci Negeri Soya.
Dengan pelibatan masyarakat dan penguatan pendidikan, BPK Maluku optimistis warisan budaya daerah dapat terus lestari.