Art Space Kini Harus Melebur dengan Kehidupan Sehari-hari

Art Space Kini Harus Melebur dengan Kehidupan Sehari-hari
Ilustrasi - Art Space. (Sumber : NET)

JAKARTA — Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Ahmad Mahendra, menyatakan bahwa ruang kebudayaan dan art space tidak lagi harus diposisikan terpisah dari masyarakat maupun arus modernitas. 

Baginya, fasilitas kebudayaan sudah sepatutnya melebur dengan keseharian masyarakat agar terasa lebih dekat dan relevan dengan aktivitas publik.

Saat ini, semakin banyak ruang kreatif yang memadukan elemen budaya ke dalam aktivitas masyarakat, termasuk pada sektor gaya hidup dan kuliner. Salah satu contoh terbaru adalah kehadiran The Banjoemas Resto & Cafe yang terletak di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat. 

Sesuai namanya, restoran ini menawarkan kekayaan cita rasa khas Banyumas bagi masyarakat di Jakarta dan sekitarnya. Tidak hanya berfokus pada kuliner, tempat ini juga menyajikan perpaduan antara hidangan dengan ruang budaya.

"Kementerian Kebudayaan saat ini sedang menggalakkan tempat-tempat untuk berdaya guna bagi pemajuan kebudayaan. Ini jadi salah satu yang jenius," ujarnya saat acara grand opening The Banjoemas Resto & Cafe di kawasan TIM, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, memperkenalkan budaya kini bisa dilakukan melalui metode yang lebih lunak (soft approach), salah satunya melalui gastronomi. Banyumas memiliki keragaman cita rasa kuliner, mulai dari mendoan, sroto, hingga cimplung. 

Pendekatan ini dinilai sebagai langkah awal untuk mengenal budaya daerah secara lebih luas, tidak terbatas pada makanan saja, tetapi juga mencakup seni pertunjukan seperti lengger dan tari ronggeng, karya film seperti Gowok, hingga sosok seniman asal Banyumas seperti Rianto dan Ahmad Tohari.

Ia juga menyarankan agar diadakan sesi khusus yang menghadirkan pertunjukan budaya seperti lengger di ruang-ruang publik. Hal ini diharapkan mampu memperkuat posisi art space di Jakarta agar tidak terpusat di lokasi yang sudah ada saja.

The Banjoemas Resto & Cafe sendiri didirikan oleh para alumni Universitas Jenderal Soedirman yang tergabung dalam Koperasi Bebrayan Akshaya Soedirman. 

Ketua Umum Keluarga Alumni Unsoed, Abdul Kholik, menyampaikan bahwa pihaknya ingin mengangkat identitas Banyumas ke skala nasional. Ia menilai budaya lokal semestinya dihargai dari berbagai sudut, baik dari estetika, nilai etos, maupun kulinernya.

Meskipun anggota perkumpulan ini tidak seluruhnya berasal dari Banyumas, mereka tetap memiliki keterikatan memori terhadap daerah tersebut, terutama melalui makanan seperti mendoan. 

Pihaknya berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal budaya daerah, terlebih mendoan khas Banyumas kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Kebudayaan, sementara tempe terus diupayakan untuk diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index