JAKARTA — Emiten produsen besi beton, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON), mencatatkan peningkatan kinerja pada kuartal I/2026 sebesar 17,7%. Capaian tersebut didorong oleh tingginya permintaan produk sampingan premium atau misroll, yang menjadi salah satu pendorong profitabilitas perseroan di tengah dinamika industri baja nasional.
Direktur BTON, Andy Soesanto, menjelaskan bahwa pertumbuhan laba perusahaan didukung oleh lonjakan penjualan misroll, yakni sisa material giling berkualitas yang dimanfaatkan oleh industri peleburan baja sebagai bahan campuran produksi.
"Hingga akhir Maret 2026, volume penjualan misroll mencapai 1.528,2 metrik ton, melonjak 142% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 631,7 metrik ton," jelasnya di Surabaya, Selasa (9/6/2026).
Dari nilai penjualan, segmen tersebut menyumbang pendapatan sebesar Rp7,99 miliar pada kuartal I/2026, meningkat tajam dari Rp2,96 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
"Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari penjualan besi beton yang mencapai Rp12,82 miliar pada kuartal I/2026 meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp12,28 miliar," ungkapnya.
Sementara itu, perseroan mencatat realisasi penjualan bersih sebesar Rp30,7 miliar, tumbuh 17,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp26,2 miliar.
Menurut Andy, optimalisasi material sisa produksi menjadi strategi krusial untuk menjaga margin usaha dan meningkatkan efisiensi operasional.
"Menatap sisa periode tahun ini, perseroan membidik angka penjualan sebesar Rp137,5 miliar dengan margin laba bersih di kisaran 3%–5%. Manajemen optimistis target tersebut berada dalam jalur yang tepat mengingat realisasi laba setelah pajak hingga triwulan pertama telah melaju melampaui target proporsional yang ditetapkan," katanya.
Di sisi lain, Andy mengakui industri baja masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait regulasi tata niaga dan kebijakan pengadaan bahan baku.
Untuk menghadapinya, BTON menerapkan diversifikasi sumber bahan baku serta memperkuat pasar domestik, khususnya segmen pesanan khusus (customized order).
"Perseroan terus memaksimalkan fleksibilitas manufaktur untuk menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperluas penetrasi ke ceruk pasar baru," tuturnya.