Bapanas Intervensi Jaring Pengaman Harga Ayam Ras Pedaging Hidup

Bapanas Intervensi Jaring Pengaman Harga Ayam Ras Pedaging Hidup
Bapanas memastikan intervensi jaring pengaman harga ayam ras pedaging hidup [SUMBER : NET].

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan bahwa langkah intervensi jaring pengaman harga ayam ras pedaging hidup tengah dijalankan demi memelihara stabilitas harga di tingkat peternak serta melindungi kelangsungan industri perunggasan nasional.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa pemerintah akan melakukan intervensi saat harga ayam hidup turun atau melambung tinggi agar tetap berada di level yang menguntungkan produsen sekaligus terjangkau bagi masyarakat.

"Begitu harganya turun kami harus naikkan kembali. Begitu harganya naik, kami turunkan kembali. Ini karena apa? Karena bagaimanapun kami ini negara produsen. Kami ingin swasembada. Tentu harga-harga di tingkat produsen jangan sampai terlalu rendah," ungkap Ketut saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (10/06/2026).

Pemerintah terus menindaklanjuti aspirasi para peternak unggas terkait harga ayam ras pedaging hidup yang masih mengalami penurunan dan belum bergerak mendekati Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak.

 Menurut Ketut, sebagai negara produsen daging ayam ras, menjaga kewajaran harga di tingkat peternak sangatlah krusial.

Berdasarkan pemantauan Bapanas hingga 8 Juni, rata-rata harga ayam ras pedaging hidup di tingkat peternak secara nasional berada di Rp22.382 per kilogram (kg).

 Level harga tersebut masih berada 10,47 persen di bawah HAP sebesar Rp25.000 per kg, bahkan turun 2,39 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level Rp22.930 per kg.

Oleh karena itu, Ketut menyampaikan bahwa pemerintah akan berkolaborasi untuk menstabilkan kembali harga ayam.

 "Kebetulan daging ayam ras di tingkat produsen juga mengalami penurunan. Tentu juga kami akan lakukan intervensi bersama-sama Direktorat Jenderal Perkebunan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian," jelas Ketut.

Pemerintah turut menjalin kerja sama dengan asosiasi peternak unggas, seperti Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar). 

"Untuk mencarikan solusi sehingga sekali lagi harga yang rendah di tingkat produsen bisa kami tangani dengan baik," tambah Ketut.

Ia menuturkan bahwa Bapanas mengupayakan musyawarah untuk mencari solusi bersama secara kolaboratif agar tercipta stabilitas harga dalam ekosistem perunggasan nasional dari hulu hingga hilir. 

Salah satu solusi yang sedang dikaji adalah penyerapan melalui program pemerintah, seperti bantuan pangan, sebagaimana yang pernah dilakukan pada 2023 dan 2024 melalui ID FOOD.

Kala itu, Bapanas menugaskan ID FOOD via Kementerian BUMN untuk menyalurkan bantuan pangan pengentasan stunting kepada 1,4 juta keluarga berupa 1 kg daging ayam dan 10 butir telur selama 3 bulan.

 Pada 2024, total 8,6 juta paket pangan telah tersalurkan ke 7 daerah sasaran, sehingga ID FOOD berhasil mendistribusikan lebih dari 15 juta paket bantuan pangan stunting selama dua tahun berturut-turut.

Dalam pelaksanaannya, ID FOOD berkolaborasi dengan banyak peternak rakyat mandiri, mikro, dan UMKM. Pada 2024, ID FOOD bermitra dengan 8.778 peternak yang mencakup 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.

Penurunan harga di sektor perunggasan juga dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Deputi Bidang Metodologi dan Informasi BPS, Pudji Ismartini, memaparkan terjadinya deflasi daging ayam ras pada Mei ini dan menekankan bahwa kondisi deflasi yang berulang tidak boleh diabaikan.

Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 3,83 persen pada Mei 2026, melanjutkan tren penurunan harga dari bulan sebelumnya. 

Deflasi berulang pada komoditas ini merupakan sinyal yang perlu mendapat perhatian karena mencerminkan tekanan harga yang masih terjadi di tingkat produsen maupun pasar.

"Daging ayam ras juga mengalami jumlah kabupaten kota yang mengalami kenaikan harga daging ayam ras bertambah di minggu pertama Juni 2026 ini, sudah sebanyak 85 kabupaten kota," ungkapnya. "Beberapa kabupaten kota walaupun mengalami kenaikan atau perubahan IPH (Indeks Perkembangan Harga) tetapi masih berada di bawah HAP-nya," tambah Pudji.

BPS mencatat deflasi daging ayam ras mulai terjadi setelah Maret. Sempat mengalami inflasi bulanan sebesar 3,30 persen di Maret, komoditas ini berubah menjadi deflasi 6,20 persen di April, dan kembali mengalami deflasi 3,83 persen pada Mei.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index