JAKARTA - Periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 kembali menjadi ujian kapasitas bagi maskapai penerbangan nasional.
Garuda Indonesia Group menutup fase puncak arus liburan atau peak season dengan capaian signifikan, baik dari sisi jumlah penumpang maupun kinerja operasional. Selama rentang waktu tersebut, mobilitas masyarakat tercatat meningkat seiring tingginya minat perjalanan ke berbagai destinasi favorit domestik dan internasional.
Capaian ini sekaligus menunjukkan peran strategis Garuda Indonesia Group dalam menjaga kelancaran transportasi udara di tengah lonjakan permintaan. Dengan pengelolaan armada dan jadwal yang terukur, maskapai pelat merah itu berhasil memastikan perjalanan udara tetap berjalan aman, nyaman, dan tepat waktu sepanjang musim libur akhir tahun.
Realisasi penumpang selama puncak liburan
Garuda Indonesia Group resmi menyelesaikan fase peak season Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dengan mencatatkan sedikitnya 1,5 juta penumpang. Jumlah tersebut terangkut melalui operasional penerbangan yang berlangsung sejak 18 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026. Pada periode itu, total penerbangan yang dioperasikan mencapai 10.400 penerbangan.
Angka penumpang tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi udara selama libur panjang. Garuda Indonesia Group mempersiapkan kapasitas secara optimal agar lonjakan penumpang dapat terlayani dengan baik tanpa mengorbankan aspek keselamatan maupun kenyamanan.
Komitmen penyediaan kursi penerbangan
Direktur Operasi Garuda Indonesia, Dani Haikal Iriawan, menyampaikan bahwa ketersediaan kursi yang dihadirkan selama musim liburan akhir tahun menjadi wujud komitmen perusahaan. Menurutnya, Garuda Indonesia Group berupaya mendukung kelancaran mobilisasi masyarakat menuju berbagai destinasi pilihan yang mengalami peningkatan signifikan selama peak season berlangsung.
“Ketersediaan kursi yang kami hadirkan di musim liburan akhir tahun tersebut menjadi representasi komitmen Garuda Indonesia Group dalam mendukung kelancaran mobilisasi masyarakat,” jelas Dani. Upaya ini dilakukan baik untuk rute domestik maupun internasional yang permintaannya meningkat tajam selama periode libur Natal dan Tahun Baru.
Keterisian kursi dan tren perjalanan masyarakat
Dani menjelaskan bahwa catatan keterisian kursi selama peak season selaras dengan tren perjalanan masyarakat yang terus tumbuh. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh penerapan kebijakan implementasi penyesuaian harga tiket dari Pemerintah RI selama periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026 berlangsung.
Dengan adanya kebijakan tersebut, masyarakat dinilai memiliki akses yang lebih baik terhadap layanan penerbangan. Tingkat keterisian kursi yang tinggi menjadi indikator bahwa strategi penyesuaian harga dan pengelolaan kapasitas berjalan efektif di tengah lonjakan permintaan.
Rute favorit domestik dan internasional
Dalam catatan arus keberangkatan libur akhir tahun, tingkat keterisian penumpang tertinggi tercatat di atas 90 persen untuk sejumlah rute domestik. Rute-rute tersebut antara lain keberangkatan dari Jakarta menuju Denpasar, Surabaya, Kualanamu, Semarang, dan Yogyakarta. Destinasi ini menjadi pilihan utama masyarakat untuk berlibur maupun pulang kampung.
Sementara itu, untuk rute internasional, tingkat keterisian tinggi tercatat pada penerbangan menuju Jeddah, Singapura, Doha, Haneda, Shanghai, Madinah, dan Incheon. Seluruh rute internasional tersebut juga diberangkatkan dari Jakarta, menegaskan peran ibu kota sebagai hub utama penerbangan internasional Garuda Indonesia Group.
Peningkatan ketepatan waktu penerbangan
Selain jumlah penumpang, kinerja operasional Garuda Indonesia Group selama peak season juga tercermin dari tingkat ketepatan waktu penerbangan. Pada periode libur akhir tahun ini, maskapai mencatatkan rata-rata On-Time Performance sebesar 89 persen.
Angka tersebut menunjukkan tren pertumbuhan dibandingkan peak season Natal dan Tahun Baru tahun sebelumnya yang mencatatkan OTP rata-rata 86 persen.
Peningkatan ini menjadi indikator bahwa pengelolaan operasional berjalan semakin baik. Ketepatan waktu penerbangan menjadi salah satu aspek krusial yang memengaruhi pengalaman penumpang, terutama pada periode padat seperti libur Natal dan Tahun Baru.
Ketepatan keberangkatan pertama sebagai fondasi
Garuda Indonesia dan Citilink juga mencatatkan rata-rata tingkat ketepatan waktu untuk keberangkatan penerbangan pertama harian atau OTP First Departure hingga 99 persen. Capaian ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka 97 persen.
Kinerja keberangkatan pertama tersebut dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga ritme operasional harian. Dengan keberangkatan awal yang tepat waktu, konsistensi ketepatan jadwal pada penerbangan berikutnya dapat terjaga dengan lebih baik sepanjang hari.
Penguatan kesiapan operasional menyeluruh
Dani menegaskan bahwa capaian selama peak season merupakan hasil dari penguatan kesiapan operasional secara menyeluruh. Menurutnya, momentum Natal dan Tahun Baru menuntut strategi operasional yang komprehensif serta kolaborasi lintas sektor yang solid.
“Kesiapan armada, awak pesawat, dan koordinasi layanan kebandarudaraan berjalan optimal untuk memberikan pengalaman perjalanan yang aman dan nyaman bagi masyarakat,” tambah Dani. Seluruh unsur operasional disiapkan secara matang untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.
Langkah optimalisasi selama peak season
Garuda Indonesia Group melakukan sejumlah langkah optimalisasi selama periode libur akhir tahun. Langkah tersebut meliputi penguatan kesiapan armada dan awak pesawat, peningkatan disiplin waktu pada keberangkatan pertama, pengoperasian posko operasional GA Group, serta penguatan koordinasi ground handling.
Selain itu, monitoring operasional secara real-time juga dilakukan untuk menjaga konsistensi ketepatan waktu penerbangan. Seluruh langkah ini dirancang agar operasional tetap terkendali meski volume penerbangan meningkat signifikan.
Apresiasi terhadap sinergi pemangku kepentingan
Di akhir penyampaiannya, Dani menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan yang mendukung kelancaran operasional selama periode peak season. Ia menilai sinergi yang solid menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga momentum perbaikan kinerja operasional Garuda Indonesia Group.
“Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas sinergi seluruh pemangku kepentingan yang mendukung kelancaran operasional selama periode ini,” ucapnya. Garuda Indonesia Group meyakini kolaborasi tersebut akan memperkuat kesiapan operasional yang terus dioptimalkan secara berkelanjutan di masa mendatang.