Genjot Ekspor, Sido Muncul Bidik Jaringan Ritel Arab Saudi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:14:32 WIB
SIDO Sasar Drugstore Resmi Arab Saudi Guna Perluas Pasar Ekspor [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) bergerak agresif dalam memperlebar sayap ke pasar mancanegara dengan menyasar jalur distribusi formal di Arab Saudi.

 Perusahaan kini tidak lagi bertumpu semata pada penjualan lewat jaringan toko oriental, melainkan mulai merambah masuk ke ekosistem jaringan ritel modern serta drugstore resmi demi memperdalam penetrasi pasarnya.

Direktur Utama SIDO, Irwan Hidayat memaparkan bahwa taktik ekspor saat ini diarahkan pada eskalasi mutu distribusi di jajaran negara yang telah menjadi wilayah tujuan ekspor, sembari terus memetakan peluang di pangsa pasar yang baru. 

Menurut pandangannya, salah satu titik perhatian utama saat ini berada di kawasan Arab Saudi. Sejauh ini varian produk SIDO sejatinya telah jamak beredar di wilayah tersebut, akan tetapi mayoritas masih didistribusikan lewat saluran non-mainstream (non mainstream outlet).

"Kami sekarang lagi mau masuk ke mainstream outlet. Kalau dulu masuknya ke outlet oriental, sekarang kita daftar resmi supaya bisa masuk ke drugstore dan jaringan resmi," ujarnya, Kamis (9/7/2026).

Irwan memberikan gambaran bahwa tingkat permintaan terhadap produk-produk SIDO di Arab Saudi selama ini banyak disokong oleh kalangan masyarakat Indonesia yang menetap di sana untuk keperluan bekerja maupun beribadah. 

Melalui langkah penetrasi ke saluran distribusi formal, perusahaan menaruh harapan dapat menjangkau basis konsumen lokal secara lebih luas lagi.

Di samping mematangkan lini distribusi, SIDO turut memperkaya portofolio jenis produk yang dilepas ke pasar ekspor.

 Jika pada waktu-waktu sebelumnya kegiatan ekspor didominasi oleh produk herbal unggulan Tolak Angin, saat ini perseroan mulai memacu volume penjualan untuk kategori produk suplemen makanan (food supplement), varian kopi herbal, hingga jenis produk topikal atau obat luar.

"Produk yang kita agresifkan sekarang itu food supplement, kopi, sampai obat gosok topikal," ujarnya.

Kendati begitu, Irwan tidak memungkiri bahwa Tolak Angin tetap memegang peran selaku penyumbang porsi terbesar bagi kinerja penjualan ekspor SIDO. Varian tersebut konsisten menjadi tulang punggung bagi lini bisnis internasional milik perusahaan.

Namun demikian, persentase kontribusi ekspor terhadap akumulasi total pendapatan SIDO terhitung masih relatif minim, yaitu belum menyentuh level 10%. 

Oleh sebab itu, langkah perluasan jaringan distribusi serta diversifikasi varian produk di pasar internasional diharapkan mampu mengatrol porsi penjualan mancanegara dalam kurun beberapa tahun ke depan.

Di tengah ketatnya peta kompetisi industri kesehatan, Irwan juga menegaskan bahwa pihak SIDO sama sekali tidak menganggap korporasi farmasi sebagai kompetitor langsung. 

Menurut analisisnya, sektor jamu dan lini farmasi memendam peran yang saling melengkapi satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan kesehatan publik.

"Farmasi itu partner di bidang kesehatan. Jamu ini kan lebih sebagai food supplement. Jadi tidak ada masalah buat saya. Farmasi tetap dibutuhkan masyarakat," katanya.

Bukan cuma lebih agresif dalam mengeksekusi penetrasi pada pasar ekspor yang sudah ada, SIDO juga memilih untuk memperkokoh aspek inovasi produk, lini riset, serta ekspansi pasar internasional sebagai pilar strategi utama demi menjaga ritme pertumbuhan bisnis di tengah situasi perekonomian yang masih penuh tantangan hingga penghujung tahun 2026.

Irwan Hidayat mengutarakan, di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, pihak korporasi lebih menitikberatkan pada aspek efisiensi, kreativitas, serta pengembangan produk yang menyuguhkan faedah nyata bagi publik.

Dirinya menggarisbawahi bahwa penguatan di sektor riset menjadi salah satu prioritas paling utama bagi perusahaan. 

SIDO saat ini telah dilengkapi sarana laboratorium farmakologi yang bertugas melangsungkan pengujian ilmiah terhadap aneka macam bahan herbal demi menjamin efektivitas produk sebelum dilepas ke pasaran.

"Kami ingin setiap produk yang kami luncurkan benar-benar memiliki bukti manfaat yang kuat sehingga bisa meningkatkan kepercayaan konsumen," ujarnya.

Dari sisi pengembangan kapasitas, SIDO belum memendam rencana untuk mendirikan unit pabrik baru. Fasilitas kapasitas produksi yang tersedia saat ini dinilai masih sangat mencukupi dengan tingkat utilisasi berada di kisaran 60%.

 Alokasi investasi perusahaan lebih diarahkan pada pengerjaan modifikasi lini produksi yang telah eksis serta agenda pengembangan varian produk gres dengan memanfaatkan sumber pendanaan internal.

"Mudah-mudahan pada akhir tahun ada sekitar tiga hingga empat produk baru. Salah satunya berada di kategori vitamin dan suplemen kesehatan," kata Irwan.

Merujuk pada publikasi laporan keuangan hingga periode 31 Maret 2026, nilai pendapatan SIDO tercatat bertengger di angka Rp640,5 m?ar, atau memperlihatkan pelemahan sekitar 19% bila dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp789,1 m?ar.

Penyusutan angka pendapatan tersebut bukan dipicu oleh melorotnya volume permintaan dari konsumen akhir (end demand), melainkan murni konsekuensi dari kebijakan penataan tingkat persediaan (inventory adjustment) di level distributor.

Irwan menilai bahwa tingkat simpanan barang yang terlampau menumpuk di tingkat distributor memicu potensi lahirnya inefisiensi dan rusaknya stabilitas harga produk di pasar. 

Akumulasi tumpukan stok tersebut dipengaruhi oleh mekanisme pola penjualan berjenjang serta aksi serapan pembelian dari pihak distributor yang memanfaatkan harga lama menjelang tutup tahun 2025. 

Di sisi lain, volume permintaan pasar di tingkat ritel diklaim tetap berada dalam kondisi yang stabil bahkan menorehkan grafik peningkatan di sejumlah daerah, terutama di wilayah Pulau Jawa dan Sumatra.

Terkini