El Nino Mengintai Sawit, Produksi Turun meski Harga CPO Naik

Selasa, 07 Juli 2026 | 22:46:31 WIB
Ancaman El Nino: Hasil Panen Sawit Berisiko Menyusut pada 2027 [FOTO: NET].

JAKARTA — Bayang-bayang fenomena El Niño mulai menggeser proyeksi masa depan industri kelapa sawit dunia. Pada satu sisi, potensi merosotnya angka produksi diprediksi bakal mendongkrak harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sampai tahun 2027. 

Kendati demikian, lonjakan harga ini tidak sepenuhnya membawa angin segar lantaran volume hasil panen diproyeksikan menyusut, sehingga pendapatan produsen, khususnya kalangan petani, masih dibayangi ketidakpastian.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengestimasi probabilitas kemunculan El Niño dengan intensitas kuat menyentuh 63% pada kurun waktu November 2026 sampai Januari 2027.

 Andai prediksi itu menjadi kenyataan, fenomena kali ini berpeluang menjadi salah satu siklus El Niño paling ekstrem sepanjang sejarah.

Sementara di tingkat domestik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fase puncak kemarau di tanah air berlangsung pada Juli–September 2026. 

Keadaan tersebut menuntut kesiapsiagaan dari seluruh elemen masyarakat demi menjamin kecukupan pasokan air, tingkat kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan lintas sektor yang terdampak agar tetap terkontrol.

Pihak BIMB Securities memproyeksikan harga rata-rata CPO bertengger di kisaran RM4.400 per ton selama 2026, lalu merangkak naik ke posisi RM4.500 per ton di tahun 2027.

 Tren kenaikan ini dipicu oleh spekulasi pasar berkaitan dengan ketersediaan stok minyak sawit yang kian menipis akibat pengaruh cuaca buruk.

Saffa Amanina Mohd Anwar selaku Analis Riset Ekuitas BIMB Securities berpandangan bahwa pengaruh cuaca terhadap profitabilitas korporasi perkebunan tahun ini cenderung masih aman, sebab perolehan tandan buah segar (TBS) terbantu oleh siklus panen musiman. Akan tetapi, situasi tersebut diprediksi bakal berbalik pada tahun mendatang.

Menurut analisisnya, jika tingkat kekeringan kian parah pada semester kedua tahun ini, imbasnya pada angka produksi akan mulai tampak di penghujung 2026. 

Sedangkan penyusutan hasil panen yang jauh lebih signifikan diestimasikan berlangsung sepanjang 2027, mengingat dampak biologis pada pohon sawit memerlukan jeda waktu sebelum memperlihatkan penurunan produktivitas yang drastis.

Kepala Riset CIMB Securities Ivy Ng ikut memprediksi hasil produksi CPO di Malaysia bakal merosot berkisar 2% sampai 3% tahun ini ke angka 19,7 juta hingga 19,9 juta ton. 

Di sisi lain, M.R. Chandran yang merupakan konsultan perkebunan memperkirakan total produksi di Indonesia berada di rentang 50,5 juta hingga 51 juta ton, atau lebih rendah jika disandingkan dengan capaian tahun 2025 yang menyentuh 51,7 juta ton.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono membenarkan bahwa risiko kemerosotan produksi akibat paparan El Niño tergolong tinggi.

"Kalau benar terjadi El Niño, produksi akan turun akibat keterlambatan panen. Produksi akan turun lebih tajam tahun depan karena pemupukan tidak dapat dilakukan saat terjadi El Nino dan juga karena tanaman stres," ujarnya kepada Bisnis, Senin (6/7/2026).

Berdasarkan penuturan Eddy, menipisnya volume produksi berpeluang memicu lonjakan harga CPO, utamanya jika distribusi minyak nabati jenis lain ikut terkendala. Walau begitu, pergerakan harga CPO senantiasa dibayangi oleh fluktuasi harga minyak mentah serta situasi geopolitik internasional.

"Harga minyak sawit juga masih akan mengikuti harga minyak bumi. Kalau naik maka harga minyak sawit juga naik, kalau turun juga demikian," katanya.

Ia mengimbuhkan bahwa jika harga CPO kelak terdepresiasi, dampak yang dirasakan oleh petani plasma cenderung lebih minim. Hal ini karena penentuan harga tandan buah segar ditinjau secara berkala lewat sistem yang mengikutsertakan pemerintah daerah, pihak korporasi, serta koperasi.

Tak Jamin Kesejahteraan Petani

Dari sudut pandang petani, prospek kenaikan harga ini malah disikapi dengan penuh kewaspadaan. Kepala Sekretariat Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) Rukaiyah Rafik memaparkan bahwa melesatnya harga CPO memang berpeluang mengerek harga jual TBS. Namun, keuntungan tersebut belum pasti bisa sepenuhnya dinikmati jikalau kapasitas produksi ikut anjlok imbas kemarau panjang.

"Kenaikan harga CPO pada dasarnya merupakan kabar baik bagi petani karena berpotensi meningkatkan harga jual TBS. Namun, petani juga menyadari bahwa El Niño dapat menurunkan produksi. Jadi, kenaikan harga belum tentu sepenuhnya memberikan keuntungan jika volume panen ikut berkurang," ujarnya.

Menurut pemaparan Rukaiyah, apresiasi harga CPO tidak selalu serta-merta berimbas langsung pada kenaikan harga TBS di level akar rumput. 

Nilai jual TBS masih terikat oleh pelbagai variabel, mulai dari sistem penentuan harga di tiap wilayah, kualitas buah, panjangnya rantai distribusi, proses penyortiran di pabrik, hingga posisi tawar kalangan petani swadaya yang posisinya masih tergolong lemah. Oleh sebab itu, profitabilitas dari kenaikan harga di pasar global kerap kali tidak langsung dirasakan oleh petani.

FORTASBI turut memberikan peringatan bahwa dampak negatif El Niño bukan melulu soal penurunan hasil panen buah sawit. 

Pola cuaca yang gersang berisiko menghambat pertumbuhan bunga sekaligus buah, menyulitkan proses penyerapan nutrisi dari pupuk, hingga memicu kerawanan bencana kebakaran khususnya di kawasan lahan gambut. 

Konsekuensinya, efek domino terhadap stabilitas produksi bisa terus berlanjut hingga beberapa bulan pasca-berakhirnya siklus El Niño.

Guna meminimalkan kerugian tersebut, otoritas terkait dipandang perlu meningkatkan program pendampingan untuk petani lewat penerapan pola tanam yang adatif iklim, semisal konservasi tanah dan tata kelola air, pemanfaatan pupuk organik, penggunaan mulsa, penambahan material organik tanah, sampai adopsi sistem pertanian regeneratif. 

Di samping itu, perluasan akses permodalan, kegiatan penyuluhan, serta distribusi informasi cuaca mesti dioptimalkan agar petani dapat mengambil langkah mitigasi secara dini.

Di sisi lain, kebijakan mandatori biodiesel B50 diproyeksikan tetap menjadi stimulus bagi penguatan harga CPO lewat peningkatan konsumsi di pasar domestik. 

Walakin, FORTASBI menilai kegunaan kebijakan tersebut baru bisa sepenuhnya dirasakan andai pemerintah ikut membenahi tata niaga industri sawit serta sistem formulasi harga TBS, sehingga perbaikan harga CPO mampu terdistribusi hingga ke tangan petani swadaya.

Maka dari itu, fenomena El Niño menghadirkan dua realitas yang berbeda bagi sektor industri sawit. Kenaikan harga memang memberikan potensi pertumbuhan nilai jual CPO, tetapi bayang-bayang penyusutan kapasitas produksi menegaskan bahwa ketahanan industri tidak lagi sekadar bersandar pada dinamika harga, melainkan pada keandalan dalam memelihara produktivitas perkebunan di bawah tekanan cuaca ekstrem.

Terkini