Efek Pujian Orangtua pada Anak dan Jenis yang Perlu Dihindari

Senin, 06 Juli 2026 | 02:08:31 WIB
Dampak Pujian Bagi Anak: Simak Jenis yang Sebaiknya Dihindari [FOTO: NET].

JAKARTA – Tatkala buah hati sukses menyelesaikan teka-teki gambar, meraih nilai memuaskan di sekolah, atau sekadar merapikan mainannya secara mandiri, mayoritas orangtua secara spontan menyuarakan pujian. 

Tindakan tersebut dirasa natural selaku wujud apresiasi terhadap daya upaya maupun keberhasilan anak. Walakin, rupanya tidak semua model pujian menghadirkan pengaruh yang serupa.

Menyadur artikel Parade, pakar psikologi anak menguraikan bahwa metode orangtua dalam melayangkan pujian dapat menentukan cara pandang anak terhadap pribadinya sendiri hingga mengonstruksi rasa percaya diri, di mana hal ini bakal terus membekas sampai mereka tumbuh dewasa.

Menurut pemaparan psikolog anak dan remaja dr. Sarah Tannenbaum, Psy.D., ABPP, model pujian yang dinilai paling efektif ialah apresiasi yang secara spesifik membidik tindakan positif sang anak. 

Sarah menerangkan sebuah konsep bertajuk labeled praise, ialah pujian yang secara gamblang memaparkan perilaku mana yang tengah diberikan apresiasi.

"Labeled praise adalah rumus sederhana: satu pernyataan positif ditambah satu perilaku yang spesifik," ujar Sarah kepada Parade. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya karena tidak memuat kata ganti yang dilarang).

Berikut dipaparkan tiga varian pujian yang direkomendasikan oleh psikolog beserta tiga kalimat yang ada baiknya mulai dikurangi intensitas penggunaannya.

Jenis Pujian yang Dianjurkan

1. "Ayah/Ibu lihat kamu benar-benar berusaha keras mengerjakannya, ya." Tiga pakar psikologi yang diwawancarai oleh Parade kompak memilih frasa tersebut selaku bentuk pujian terbaik bagi buah hati. Psikolog klinis dr. Holly Schiff, Psy.D., mengungkapkan bahwa kalimat itu menanamkan pemahaman pada anak bahwa proses perjuangan jauh lebih bernilai ketimbang sekadar hasil akhir.

"Kalimat ini sangat kuat karena fokus pada proses yang dijalani anak, bukan hanya hasilcopy akhirnya," kata Holly. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya).

Apresiasi semacam ini menyokong pembentukan pola pikir berkembang (growth mindset) sekaligus menjadikan anak merasa bahwa kerja kerasnya betul-betul diakui. 

Sarah pun menyukai penyematan frasa "Ayah melihat..." atau "Ibu melihat..." lantaran sang anak bakal merasa perjuangannya tidak luput dari atensi orangtua. Efeknya, anak menjadi lebih gampang mengerti bahwa yang diberi penghargaan bukan sekadar hasil akhir, melainkan juga ketekunan sepanjang proses belajar untuk memetik hasil tersebut.

2. "Kamu tetap berusaha meski tadi sulit." Tidak semua fase belajar senantiasa berjalan mulus. Ada kalanya anak menemui kegagalan saat menyusun balok, kalah dalam suatu ajang kompetisi, ataupun kewalahan menuntaskan soal tertentu. Menurut penilaian Sarah, momen-momen kritis tersebut justru menjadi kans emas untuk mengapresiasi kegigihan anak.

"Anak belajar bahwa kemajuan lebih penting daripada kesempurnaan, dan usaha mereka layak dihargai," ujarnya. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya).

Model pujian ini turut menununtun anak untuk melihat bahwasanya kegagalan bukanlah titik akhir dari sebuah proses belajar. Mereka bakal terdorong untuk kembali mencoba tanpa merasa harga diri mereka dipertaruhkan pada sebuah keberhasilan.

3. "Kamu pantas bangga dengan usaha yang sudah kamu lakukan." Kalimat tersebut barangkali terdengar simpel, namun menyimpan esensi yang berbeda bila disandingkan dengan ungkapan seperti "Ayah bangga sama kamu" atau "Ibu bangga sama kamu." 

Pakar psikologi klinis dr. Ioana Pal, Psy.D., menguraikan bahwa model apresiasi tersebut menuntut anak untuk menumbuhkan rasa bangga yang bersumber dari dalam sanubarinya sendiri.

"Anak belajar menghubungkan rasa bangga dengan usaha dan penilaiannya terhadap dirinya sendiri, bukan hanya tepuk tangan dari orang lain," kata Ioana. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya).

Melalui metode tersebut, motivasi yang dimiliki anak tidak semata-mata bertumpu pada validasi dari lingkungan luar. Mereka juga berlatih untuk menghargai pencapaian pribadinya bersandarkan pada usaha yang telah dikerahkan.

Jenis Pujian yang Sebaiknya Dihindari

1. "Kamu yang paling hebat, Nak." Sekilas, ungkapan ini terkesan bernada positif. Namun demikian, menurut pandangan Holly, pujian yang mengomparasikan anak dengan orang lain justru berisiko memicu harga diri anak menjadi ketergantungan pada sebuah persaingan.

"Pujian yang bersifat membandingkan bisa membuat anak mengaitkan harga dirinya dengan mengalahkan orang lain, bukan menikmati proses belajar atau mengembangkan diri," ujarnya. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya).

Ketimbang melakukan komparasi sosial, orangtua lebih dianjurkan untuk menyoroti progres sang anak jika dibandingkan dengan capaian dirinya sendiri di masa lampau. Lewat cara ini, fokus anak akan tetap tertuju pada proses bertumbuh secara personal.

2. "Bagus!" Ungkapan ini sejatinya tidak keliru. Akan tetapi, bilamana dilontarkan tanpa disertai eksplanasi yang jelas, anak kerap kali kebingungan menangkap perilaku spesifik mana yang sebenarnya tengah diapresiasi. 

Sarah menitipkan saran agar kata penegas seperti "Bagus!" senantiasi diikuti oleh alasan yang konkret, semisal, "Bagus, Nak, kamu langsung membereskan mainan setelah selesai bermain."

3. "Kamu pintar sekali." Berdasarkan penuturan Ioana, terlampau intens memuji anak dengan label pintar dapat memicu munculnya rasa takut terhadap kegagalan.

"Anak yang lebih sering dipuji karena kepintarannya cenderung menghindari tantangan, takut gagal, atau merasa setiap kesalahan berarti dirinya sudah tidak pintar lagi," jelasnya. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya).

Oleh karena itu, ia menitipkan rekomendasi agar para orangtua lebih mengintensifkan pujian yang menyasar pada aspek strategi, ketekunan, serta daya upaya yang telah dikerahkan oleh anak.

Terkini