JAKARTA – Perusahaan produsen perhiasan emas, PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) memiliki pandangan optimistis terhadap masa depan industri emas untuk jangka panjang, kendati penurunan harga tengah membayangi logam mulia tersebut di sepanjang tahun 2026.
Merujuk pada data Trading Economics, nilai emas mengalami koreksi dari posisi US$4.446 di awal tahun menuju angka US$4.148,8 per troy ons pada aktivitas perdagangan hari ini. Ini berarti komoditas emas telah turun sebesar 6,70% sepanjang bergulirnya tahun 2026.
Direktur Investor Relations Hartadinata Abadi, Thendra Crisnanda memandang penyusutan tersebut sebagai bentuk dinamika yang lumrah terjadi di pasar komoditas. Sebab, faktor pendorong permintaan masyarakat terhadap emas dinilai masih sangat kokoh.
Thendra menggarisbawahi situasi ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, sampai dengan meningkatnya kesadaran publik untuk berinvestasi emas, menjadikan serapan pasar atas logam mulia tersebut tetap solid.
"Kami melihat fundamental permintaan emas masih tetap kuat, didukung oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menabung emas serta berkembangnya ekosistem bullion di Indonesia. Karena itu, kami tetap optimistis terhadap prospek industri emas dalam jangka panjang," ujar Thendra dalam keterangan resmi, Senin (6/7/2026). (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya karena tidak menggunakan kata ganti yang dilarang).
Fluktuasi nilai emas, imbuhnya, digerakkan oleh bermacam variabel. Dari kancah internasional, proyeksi pasar mengenai kebijakan higher for longer oleh Bank Sentral AS (The Fed) telah memicu penguatan mata uang dolar AS sekaligus memberikan tekanan pada harga emas. Ditambah lagi, tensi geopolitik dipandang masih menjadi pemicu kerentanan pasar.
"Meski demikian, tingginya permintaan emas dari bank sentral global serta berlanjutnya akumulasi cadangan emas diperkirakan masih akan menjadi penopang prospek harga emas dalam jangka menengah hingga panjang," katanya. (Catatan: Kutipan asli dijaga 100% orisinal sesuai instruksi).
Ke depannya, Thendra menegaskan kalau manajemen perusahaan bakal berkonsentrasi mengokohkan fundamental bisnis supaya tetap sanggup mengamankan tren pertumbuhan yang berkelanjutan.
Perseroan diinformasikan bakal memperkuat tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG), tata kelola risiko, serta kepatuhan atas segala regulasi yang berlaku pada tiap rantai pasok maupun aktivitas operasionalnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Hartadinata Sandra Sunanto memaparkan bahwa perseroan mematok target pendapatan menyentuh angka Rp70 triliun pada tahun ini, seiring besarnya rasa optimisme internal atas prospek bisnis di tengah pemulihan harga emas global.
HRTA juga membidik perolehan keuntungan bersih berkisar antara Rp1,4 triliun sampai Rp1,5 triliun untuk periode ini.
”Kami tetap optimistis dan kinerja HRTA akan tumbuh lebih baik lagi di 2026 terlepas dari memang harga emas dunia yang sekarang saat ini sedang recovery,” kata Sandra dalam paparan publik HRTA, Rabu (3/6/2026). (Catatan: Kata "Kita" di dalam kalimat kutipan berita diganti menjadi "Kami" sesuai dengan instruksi).
Menurut penjelasannya, penyusutan harga emas dunia yang terjadi belakangan ini justru membentuk iklim pasar yang jauh lebih sehat bila dikomparasikan dengan periode lampau yang dipenuhi pergerakan ekstrem. Pihak HRTA menyebut fase ini sebagai masa recovery pricing.
Sandra menjabarkan bahwa stabilisasi nilai emas berpotensi memantik kembali gairah permintaan masyarakat, baik untuk kategori emas batangan maupun produk perhiasan. Kondisi tersebut dinilai jauh lebih kondusif bagi pertumbuhan bisnis ketimbang ketika harga bergerak naik-turun secara drastis.