Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.995, Sempat Sentuh Rp 18.000

Senin, 06 Juli 2026 | 22:28:31 WIB
Rupiah Melemah 0,18 Persen, Sempat Tembus Rp 18.000 per Dollar AS [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah pada perdagangan di pasar spot sempat mengalami koreksi sedalam 42 poin hingga menyentuh level Rp 18.000 per Dollar Amerika Serikat (AS) dalam kurun waktu kurang dari dua jam sebelum sesi perdagangan ditutup pada hari Senin (6/7/2026). 

Meski begitu, mata uang Garuda berhasil mencatatkan penguatan tipis menjelang akhir perdagangan Senin sore ini.

Bersandarkan pada data dari Bloomberg, kurs rupiah terpantau masih terdepresiasi sebesar 32 poin atau setara dengan 0,18 persen ke level Rp 17.995 per dollar AS jika dikomparasikan dengan posisi penutupan pada periode sebelumnya.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpendapat bahwa pergerakan pasar menunjukkan respons negatif usai Fitch Ratings memublikasikan laporan teranyar yang mengulas secara mendalam terkait rapuhnya fundamental ekonomi makro di Indonesia. 

Titik rentan tersebut terefleksikan melalui depresiasi nilai tukar rupiah, menciutnya cadangan devisa, sampai dengan fenomena gelombang modal keluar (capital outflow) yang masif.

Kendati demikian, sorotan utama dari pihak Fitch lebih diarahkan pada sektor tingkat kepercayaan investor yang terus merosot sebagai imbas dari memburuknya tata kelola di bidang ekonomi.

“Lembaga pemeringkat tersebut memperingatkan bahwa tekanan yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah, sekaligus memperbesar risiko penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Senin sore.

Memasuki periode Maret 2026, Fitch sebetulnya masih mempertahankan peringkat utang luar negeri Indonesia pada level BBB, namun mereka mengubah prospeknya (outlook) menjadi negatif. 

Di samping sentimen dari Fitch Ratings, kecemasan pelaku pasar juga dipicu oleh kondisi neraca perdagangan domestik yang kembali mengalami defisit.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan sebelumnya menyatakan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit senilai 1,61 mliar dollar AS sepanjang bulan Mei 2026. 

Hasil tersebut secara otomatis menyudahi capaian positif tren surplus perdagangan yang sempat bertahan selama 72 bulan secara berturut-turut.

Guna menyikapi situasi ini, Bank Indonesia turun tangan ke pasar dengan mempertebal intensitas intervensi demi menggaransi agar mekanisme pasar tetap berjalan secara kondusif. 

Sebagai bagian dari taktik stabilisasi, aksi intervensi dieksekusi secara berkesinambungan lewat instrumen transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) pada pasar offshore, langkah transaksi spot serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) melalui pasar sekunder.

Pihak bank sentral pun terus mengoptimalkan sinergi serta komunikasi bersama lingkaran korporasi dan pelaku pasar demi memelihara stabilitas di sektor pasar keuangan.

Dari faktor eksternal, eskalasi ketegangan geopolitik semakin meruncing menyusul gelombang serangan rudal dan drone milik Rusia yang menerjang Ibu Kota Ukraina, Kyiv, di waktu pagi. 

Aksi serangan teranyar dari kubu Moskow ini bergulir menjelang perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki yang dijadwalkan bakal dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Rentetan ledakan terdengar menggema di pelbagai penjuru pusat kota, sementara sejumlah penduduk dilaporkan masih berada dalam kondisi terjebak di area bangunan apartemen bertingkat yang mengalami kerusakan parah. 

Di waktu yang bersamaan, gempuran kombinasi menggunakan rudal balistik serta drone terpantau terus berlanjut.

Di sisi lain, kendati pasokan fisik minyak mentah terus mengalami pemulihan, potensi risiko geopolitik di kawasan Selat Hormuz tetap bertindak sebagai fokus perhatian utama bagi para pelaku pasar. 

Kalangan pelaku pasar tengah menimbang sinyal-sinyal yang saling bertolak belakang dari pihak Washington dan Teheran menyangkut urusan keamanan serta sistem tata kelola jalur pelayaran strategis tersebut untuk masa depan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah menyetujui “hampir semua yang kami butuhkan”.

Sementara itu, barisan pejabat Iran tetap memberikan penegasan bahwa pihak Teheran tidak akan pernah melepaskan dominasi pengaruhnya di wilayah Selat Hormuz ataupun menerima persyaratan yang berkaitan dengan akses navigasi pelayaran.

Berbagai macam pernyataan kontradiktif tersebut memicu tingkat ketidakpastian tetap berada di level tinggi, yang pada akhirnya menahan laju penurunan harga minyak mentah meskipun Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan negara produsen minyak di kawasan Teluk lainnya terus memulihkan volume ekspor mereka melewati Selat Hormuz.

Di Amerika Serikat, rilis data penggajian nonpertanian (non-farm payrolls) untuk periode Juni dilaporkan bergerak lebih rendah ketimbang estimasi awal. 

Situasi tersebut melahirkan tanda tanya besar menyangkut seberapa lebar ruang manuver yang dimiliki oleh Federal Reserve (The Fed) untuk kembali mengerek suku bunga acuan.

Walau demikian, pelemahan mata uang dollar AS terpantau masih berjalan secara terbatas lantaran ketidakpastian yang terus berlanjut sehubungan dengan arah kebijakan moneter The Fed yang agresif.

 Terlebih lagi, rangkuman hasil rapat bank sentral pada bulan Juni memperlihatkan bahwa para perumus kebijakan kian memberikan dukungan terhadap penetapan suku bunga yang lebih tinggi di tengah kondisi inflasi yang masih belum mereda.

Perhatian pasar pada pekan ini terfokus pada dokumen risalah rapat Federal Reserve periode Juni yang segera dipublikasikan. 

Namun, masih belum bisa dipastikan seberapa jauh berkas tersebut bakal menyodorkan petunjuk anyar mengenai proyeksi arah kebijakan moneter, mengingat Ketua The Fed yang baru saja menjabat, Kevin Warsh, sebelumnya telah menyerukan adanya perombakan pada strategi komunikasi bank sentral terhadap publik.

Terkini