Studi: Dulu Bahagia di Usia Muda, Kini Gen Z Justru Sebaliknya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:20:31 WIB
Kurva Kebahagiaan Berubah, Gen Z Kini Jadi Kelompok Paling Merana [FOTO: NET].

JAKARTA - Sejak lama, berbagai riset memperlihatkan bahwa tingkat kebahagiaan manusia membentuk tren menyerupai kurva huruf U, yang mana bernilai tinggi di masa muda, menyusut kala paruh baya, dan melonjak lagi di masa tua. Kendati demikian, tren tersebut belakangan ini dinilai bergeser, khususnya semenjak Generasi Z (Gen Z) menginjak fase kedewasaan.

Menyadur dari YourTango (3/7/2026), sebuah riset teranyar menunjukkan bahwa golongan dewasa muda sekarang ini malah menjadi kelompok dengan tingkat kebahagiaan paling rendah. 

Bukannya merasakan kepuasan hidup tertinggi di masa muda, grafik kebahagiaan saat ini justru memperlihatkan tren yang terus naik searah pertambahan usia, tanpa melewati fase penurunan di usia paruh baya.

Lantas, apa gerangan yang melatarbelakangi pergeseran ini?

Studi menemukan orang dewasa muda kini paling tidak bahagia

Merujuk hasil studi itu, tren kebahagiaan berbentuk kurva U yang diyakini selama ini perlahan sirna. Tim peneliti mendapati bahwa individu dengan usia di bawah 45 tahun mengalami penurunan indeks kebahagiaan dalam rentang waktu beberapa tahun belakangan.

Pergeseran yang paling mencolok terdeteksi sepanjang kurun waktu 2019 sampai 2024. Pihak peneliti bahkan mengilustrasikan kondisi psikologis sebagian kalangan dewasa muda tengah berada pada fase putus asa (state of despair). 

Mereka tengah berupaya membedah pemicu di balik merosotnya kondisi kesehatan mental kelompok muda ini ketimbang kelompok usia yang lebih senior. 

Kendati begitu, sampai detik ini belum ditemukan satu pemicu tunggal yang menjadi akar masalahnya. Para ahli berpendapat bahwa gejala perubahan tersebut sebenarnya sudah terdeteksi bahkan sebelum merebaknya pandemi Covid-19.

Gen Z merasa hubungan dan tujuan hidupnya melemah

Lewat ulasannya terkait riset tersebut, jurnalis The New York Times Well, Christina Caron, memaparkan bahwa generasi muda tidak semata-mata merasa kurang ceria. 

Mereka pun menganggap relasi sosial yang dijalani tak lagi seerat dahulu serta merasakan visi atau tujuan hidup mereka kian menipis. Dampaknya, banyak di antara mereka yang merasa tidak betul-betul bertumbuh secara optimal (flourishing).

Tim peneliti memaknai istilah flourishing sebagai sebuah keadaan di kala segenap sendi kehidupan seseorang berputar dengan semestinya. 

Hasil studi ini mengindikasikan bahwa hambatan yang dirasakan kelompok muda bukan cuma seputar dinamika suasana hati (mood), melainkan sudah menyentuh mutu ikatan sosial dan esensi kehidupan yang mereka jalani.

Lansia justru tetap memiliki tingkat kebahagiaan tinggi

Di lain pihak, sebuah eksperimen ilmiah berbeda di Inggris memperlihatkan hasil kontras pada golongan lanjut usia (lansia). Masyarakat berumur 65 sampai 79 tahun dikabarkan mengantongi derajat kebahagiaan yang cukup tinggi. 

Angka kebahagiaan tersebut diakui agak menyusut selepas melewati usia 80 tahun, dipicu oleh semakin kompleksnya persoalan kesehatan yang mendera.

Berdasarkan penjelasan dari psikiater klinis Profesor Julia Lappin, salah satu aspek penentunya yakni paradigma yang lebih optimistis dalam memandang proses penuaan. "Dengan bersikap positif, akan muncul perilaku yang mendukung kesehatan fisik yang lebih baik," kata Lappin. 

Profesor Julia Lappin mengimbuhkan bahwasanya guna memelihara fungsi otak searah berjalannya usia, tiap individu wajib mempertahankan keaktifan kognitif, ketahanan fisik, serta keterlibatan sosial sepanjang hayat.

Perspektif senada turut dikemukakan oleh pakar kesehatan geriatri Profesor Velandai Srikanth. "Usia bukanlah penyakit; usia hanyalah waktu," ujarnya. Profesor Velandai Srikanth menegaskan bahwa menua tidak melulu berkorelasi dengan kualitas kesehatan yang merosot.

Mengapa Gen Z dinilai lebih rentan?

Bersandar pada laporan YourTango, pergeseran kurva kebahagiaan ini berjalan beriringan dengan pelbagai problema pelik yang tengah membayangi Gen Z. Kelompok generasi ini ditengarai mengidap derajat kesehatan mental yang lebih rapuh ketimbang generasi-generasi pendahulu mereka.

 Bukan itu saja, mereka juga dibebani oleh kecemasan seputar jenjang karier serta stabilitas ekonomi. Angka pengangguran di kalangan Gen Z bahkan diklaim berkisar tiga angka lebih tinggi daripada rata-rata skala nasional.

Di sudut pandang lain, Gen Z menyandang predikat sebagai generasi pertama yang tumbuh besar di kala jejaring media sosial sudah terintegrasi erat dengan aktivitas keseharian. Para pengamat menganggap bahwa terpaan konstan dari media sosial sanggup mengintervensi kematangan fungsi otak sekaligus menaikkan derajat kepanikan. 

Psikolog klinis Dr. Orna Guralnik pun menyebutkan kalau mayoritas generasi muda merasa masa depan terlihat suram. Berdasarkan rilis laporan itu, mengembalikan grafik kepuasan hidup golongan dewasa muda ke posisi semula tampaknya memerlukan transformasi berskala besar, baik dari segi pola hidup personal maupun ekosistem kemasyarakatan yang lebih makro.

Terkini