Harga Minyak Turun, Inflasi RI Diprediksi Melandai ke Depannya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:59:01 WIB
Pemerintah Proyeksi Inflasi Melandai, Namun Waspadai Harga Pangan [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah memperkirakan tren penurunan harga minyak dunia bakal mendorong laju inflasi agar melandai ke depannya. Meski demikian, pemerintah memastikan tetap akan memantau faktor lain yang berpotensi memicu kenaikan inflasi, yakni komponen harga bergejolak (volatile foods).

Sebagai informasi, inflasi tahunan per Juni 2026 meningkat ke level 3,34% (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang berada di posisi 3,08% (yoy). Lonjakan ini terutama dipicu oleh komponen harga yang diatur pemerintah (administered price), yakni kenaikan harga Pertamax. 

Selain harga bahan bakar minyak (BBM), Kemenko Perekonomian mengakui bahwa kenaikan harga tiket pesawat selama musim libur sekolah turut mendorong inflasi Juni 2026, sekalipun pemerintah telah memberikan stimulus berupa PPN ditanggung pemerintah (PPN DTP).

Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan bahwa terdapat sejumlah faktor pendorong inflasi pada Juni 2026. Namun, ia menilai kondisi secara umum masih terkendali jika melihat inflasi komponen inti (core inflation).

"Sebenarnya kalau core-nya kan masih 2,7% masih cukup bagus lah kalau mau dijadikan indikator buat daya beli," jelasnya kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Tren penurunan harga minyak diharapkan dapat membantu laju inflasi semakin melandai. Walau begitu, Susi menyebut pemerintah akan tetap mewaspadai inflasi pada komponen harga bergejolak akibat dampak fenomena El Nino.

"Kami harus waspadai terutama untuk volatile food karena kan terdampak dengan musim dan sebagainya. Kalau inflasi Juni, kontribusinya tertinggi adalah administered prices yang sangat tinggi karena harga BBM nonsubsisi dan tiket angkutan liburan," paparnya.

Mengenai target, Susi tetap optimistis inflasi hingga akhir tahun akan berada dalam rentang 2,5% sampai 1%. Pengendalian terus dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). 

Susi mengungkapkan bahwa sejumlah kepala daerah menyatakan kondisi harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat saat ini masih terjaga.

Pemerintah juga berharap stimulus ekonomi pada semester II/2026 mampu meredam kenaikan harga dan mendukung daya beli. Pemerintah telah menyalurkan bantuan pangan beras 10 kg untuk 33,24 juta penerima periode Juli-September 2026, serta bantuan stabilisasi harga pangan SPHP kedelai bagi pengrajin tahu dan tempe. Selain itu, pemerintah memberikan tarif bea masuk 0% bagi impor LPG untuk industri petrokimia, bahan baku plastik, dan suku cadang pesawat.

Meski tantangan dari sisi harga bergejolak dan harga yang diatur pemerintah masih ada, tingkat inflasi diyakini akan melandai ke depan.

"Bulan depan semestinya siklus mulai turun karena harga [minyak] brent dan WTI turun. Semestinya harga-harga yang lain juga ikut turun, karena ada komponen logistik di situ kan. Kalau bulan depan saya yakin pasti akan turun kalau inflasi," pungkas Susi.

Terkini