Pacu Produksi Nikel, NCKL Kebut Tiga Proyek di Pulau Obi

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:18:32 WIB
Harita Nickel Kebut Tiga Proyek Strategis di Pulau Obi [FOTO: NET].

JAKARTA — Perusahaan pertambangan serta hilirisasi nikel terpadu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel, sedang mengakselerasi penyelesaian tiga agenda proyek strategis di Kawasan Industri Pulau Obi, Maluku Utara. 

Tiga portofolio proyek utama itu mencakup infrastruktur pengolahan nikel Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) fase ketiga, pabrik konversi batu kapur (limestone) menjadi quicklime, beserta fasilitas pengolahan kembali sisa hasil produksi (tailing recycling).

Direktur Utama NCKL, Roy Arman Arfandy, mengutarakan bahwa agenda smelter RKEF ketiga yang digarap lewat entitas anak usaha PT Karunia Permai Sentosa (KPS) ini dirancang memiliki total 12 jalur produksi dengan daya tampung kapasitas terpasang menembus 185.000 ton nikel metal berwujud feronikel (FeNi) per tahunnya.

“KPS merupakan RKEF plan yang ketiga kami. Sedang dalam proses finalisasi,” ujarnya saat paparan publik secara daring, Selasa (30/6/2026).

Pihak perseroan telah merampungkan konstruksi 10 jalur produksi di sepanjang periode tahun 2025. Di lain sisi, dua jalur produksi pamungkas diselesaikan tahap konstruksinya pada kuartal I/2026, yang menegaskan selesainya seluruh tahapan pengerjaan fisik utama pabrik.

 Pada saat ini, jajaran manajemen mulai melakukan peningkatan kapasitas secara bertahap (ramp-up) operasional pada sejumlah lini produksi demi mengejar target kapasitas operasional secara menyeluruh.

Pihak perseroan, lanjut Roy, membidik seluruh 12 lini produksi di bawah pengelolaan KPS tersebut sudah sanggup beroperasi secara menyeluruh dengan kapasitas optimal pada akhir tahun ini.

 Sementara itu, suplai tambahan dari KPS diproyeksikan akan mendongkrak akumulasi kapasitas terpasang produk feronikel Harita Nickel di Pulau Obi menjadi 305.000 ton nikel per tahun pada penghujung tahun 2026. 

Portofolio anyar ini bakal menggenapi dua infrastruktur pengolahan eksisting milik perusahaan yang telah lebih dahulu beroperasi secara penuh.

Sebagai informasi tambahan, infrastruktur peleburan perdana milik perusahaan dikelola lewat PT Megah Surya Pertiwi (MSP) dengan volume kapasitas produksi menyentuh 25.000 ton nikel per tahun. 

Berikutnya, terdapat PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF) yang mengendalikan secara penuh delapan lini produksi dengan daya tampung kapasitas terpasang sebesar 95.000 ton nikel per tahun.

Bukan sekadar menggenjot perolehan output feronikel, Harita Nickel pun memacu pengerjaan proyek penunjang yang terintegrasi demi memangkas ketergantungan biaya operasional eksternal. 

Salah satunya direalisasikan lewat pembangunan fasilitas pabrik kapur tohor atau quicklime melalui badan usaha patungan PT Cipta Kemakmuran Mitra (CKM). 

Entitas bisnis ini memegang mandat untuk memproduksi quicklime, sejenis unsur kimia penunjang vital dalam siklus pemurnian bijih nikel kadar rendah (limonit) pada infrastruktur hidrometalurgi berbasis High-Pressure Acid Leach (HPAL).

“CKM akan menghasilkan quicklime untuk digunakan oleh dalam proses HPAL maupun di PT Halmahera Persada Lygend maupun di Obi Nickel Cobalt, keduanya HPAL plant yang kami sudah beroperasi di Pulau Obi,” ucap Roy.

Perolehan output dari satu lini CKM tersebut nantinya bakal langsung didistribusikan guna memenuhi kebutuhan operasional dua fasilitas pabrik HPAL eksisting kepunyaan perusahaan yang dikelola oleh entitas anak usaha, yakni PT Halmahera Persada Lygend (HPL) serta PT Obi Nickel Cobalt (ONC).

Terkini