Menhut: RI Menuju Pembiayaan Konservasi Berbasis Alam Berkelanjutan

Jumat, 26 Juni 2026 | 20:36:32 WIB
Menhut Raja Juli Antoni Dorong Pendekatan Baru Pembiayaan Konservasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan bahwa Indonesia saat ini tengah melangkah ke arah pembiayaan konservasi berbasis alam (nature finance) yang inklusif serta berkelanjutan.

Menhut lewat pernyataan resminya yang diperoleh di Jakarta, Jumat, menguraikan bahwa Indonesia sedang mendesain metode anyar dalam tata kelola konservasi yang tidak lagi bersandar seutuhnya pada anggaran publik. 

Langkah ini sekaligus membuka peluang bagi investasi yang kredibel, memiliki integritas, serta menghadirkan utilitas riil untuk warga, alam, maupun iklim.

“Indonesia tidak hanya sedang menyusun strategi pembiayaan. Kami sedang membangun paradigma baru tata kelola konservasi, di mana taman nasional memiliki kemandirian finansial, masyarakat menjadi mitra utama, sektor swasta memiliki peran yang bermakna, dan negara menyediakan kerangka regulasi yang kuat untuk memastikan seluruh mekanisme berjalan secara akuntabel dan berkelanjutan,” ujar Raja Juli Antoni.

Selaras dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto, Indonesia sudah menyusun Satuan Tugas Pembiayaan Inovatif untuk Pengelolaan Taman Nasional dan Konservasi Spesies Ikonik. 

Satuan Tugas ini mematok target sedikitnya 13 taman nasional beserta dua lanskap konservasi spesies ikonik sanggup meraih derajat mandiri secara finansial pada tahun 2030.

Guna memenuhi target itu, Indonesia mengimplementasikan taktik ganda lewat pembenahan regulasi serta pemantapan kelembagaan, sekaligus memacu mobilisasi investasi melalui perancangan instrumen keuangan inovatif serta kerja sama strategis dengan aneka elemen.

Bukan hanya itu, Indonesia pun meluncurkan gagasan “Natural Ecosystems as a New Asset Class”, yakni suatu metode yang menempatkan ekosistem alam selaku aset strategis yang sanggup memproduksi kegunaan ekonomi berkelanjutan sekaligus melestarikan fungsi ekologisnya.

Pelbagai instrumen yang kini tengah dimatangkan mencakup kredit karbon, kredit keanekaragaman hayati, obligasi konservasi spesies (species bonds), wisata alam, bioprospeksi, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, sampai rupa-rupa pola kemitraan antara pemerintah dan swasta.

Pendekatan tersebut, tutur Raja Juli Antoni, diharap sanggup membuka celah investasi baru yang menyokong konservasi sekaligus menaikkan taraf kesejahteraan warga di sekitar area. Sebagai proyek percontohan primer, Indonesia mengusung Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di wilayah Aceh.

Inisiatif tersebut, sambungnya, dikonsep untuk memperlihatkan bahwa proteksi satwa liar, keterhubungan habitat, serta stimulus ekonomi warga dapat bergulir secara integratif dalam sebuah lanskap konservasi.

Dirinya pun mengajak komunitas investasi dunia, mitra pembangunan, badan filantropi, beserta aneka pemangku kepentingan untuk bersinergi menyokong transformasi pembiayaan konservasi di Indonesia.

“Kami menyambut kemitraan dalam bentuk dukungan keahlian, transfer teknologi, dukungan implementasi program, maupun pembiayaan inovatif yang disepakati bersama. Kolaborasi global akan mempercepat upaya kita dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

Terkini