Kemenkes Ingatkan Bahaya Grooming Terkait Kasus Penyekapan

Jumat, 26 Juni 2026 | 18:36:31 WIB
Kemenkes Paparkan Bahaya Grooming Usai Kasus Penyekapan [FOTO: NET].

JAKARTA  - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat agar selalu waspada serta mengenali indikasi grooming, sembari menekankan pentingnya bantuan psikologis, medis, dan perlindungan hukum bagi korban, karena grooming adalah kejahatan tersembunyi yang mengincar anak-anak hingga orang dewasa.

Imbauan itu disampaikan Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, di Jakarta, Jumat, sebagai tanggapan atas kasus seorang perempuan yang disekap selama tiga tahun di Bandung.

"Grooming bukan sekadar rayuan manis atau perhatian berlebihan. Ia adalah strategi yang sistematis, pelaku mendekati korban dengan sikap penuh perhatian, hadiah, atau janji-janji yang membuat korban merasa istimewa," kata Imran.

Namun, di balik itu pelaku menanamkan kontrol. Ia menjelaskan bahwa korban diminta menyimpan rahasia, dijauhkan dari keluarga dan teman, hingga perlahan kehilangan kemandirian. 

Rasa bersalah ditanamkan setiap kali korban mencoba menolak, lanjutnya, sehingga lama-kelamaan korban merasa bergantung sepenuhnya pada pelaku.

Dalam sejumlah kasus yang sempat viral, pola ini terlihat nyata. Korban tidak hanya mengalami kekerasan fisik, namun juga kehilangan kebebasan serta aset.

"Selama tiga tahun ia hidup dalam penyekapan, meski disiksa, karena ikatan manipulatif yang membuatnya sulit keluar. Trauma, ancaman, dan stigma sosial, semakin memperkuat jerat yang menahan korban. Ia tidak berani melapor, karena merasa tidak ada jalan keluar," ujarnya.

Menurutnya, fenomena ini membuktikan bahwa grooming tidak hanya mengintai anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Pada anak, grooming umumnya berakhir dengan eksploitasi seksual.

Pada orang dewasa, jelasnya, hal ini dapat berkembang menjadi kontrol emosional, finansial, hingga penyekapan. Meski target usianya berbeda, Imran menegaskan bahwa pada keduanya, pelaku membangun kepercayaan untuk kemudian menguasai korban.

"Mengapa korban sulit melawan? Trauma psikologis membuat mereka kehilangan keberanian. Ketergantungan emosional menjadikan pelaku seolah satu-satunya sumber dukungan," katanya.

Ancaman dan intimidasi menutup ruang untuk melapor. Ditambah stigma sosial yang membuat korban takut dihakimi, lingkaran ini semakin sulit diputus.

Dalam banyak kasus, kata Imran, pelaku menunjukkan pola perilaku khas yang tampak manis namun sesungguhnya berbahaya. Ia kerap memberi perhatian berlebihan berupa pujian, hadiah, atau sikap seolah melindungi, yang membuat korban merasa istimewa tetapi sebenarnya bertujuan menjerat.

"Pelaku kemudian menciptakan rahasia bersama, meminta korban menyimpan hal-hal tertentu dari keluarga atau teman sehingga korban merasa dekat namun sekaligus terisolasi," ujarnya.

Dari sana, lanjutnya, kontrol semakin diperkuat dengan mengendalikan akses sosial, membatasi dengan siapa korban berinteraksi, bahkan mengatur aktivitas sehari-hari.

Ketergantungan emosional dibangun secara perlahan, membuat korban merasa berutang budi atau tidak bisa hidup tanpa pelaku. 

Dalam prosesnya, perilaku yang melanggar batas dinormalisasi, diperkenalkan sedikit demi sedikit sambil diyakinkan bahwa hal tersebut wajar.

"Ketika korban mulai ragu, pelaku menggunakan rasa bersalah dan ancaman, memaksa korban percaya bahwa menolak berarti menghancurkan kepercayaan atau akan berakibat buruk," katanya.

Semua pola ini menjadikan grooming sebagai jerat halus yang akhirnya menutup ruang perlawanan dan membuat korban semakin sulit keluar dari lingkaran manipulasi.

Oleh karena itu, lanjutnya, pencegahan grooming memerlukan kesadaran kolektif. Keluarga harus menjadi ruang aman bagi anak dan perempuan untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Literasi digital perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih waspada terhadap manipulasi di dunia maya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, berempati, dan berani bertindak, agar tidak ada lagi korban yang terjebak dalam lingkaran manipulasi dan kekerasan.

"Dengan mengenali tanda-tandanya, membangun komunikasi terbuka, dan berani melapor, kami dapat memutus rantai manipulasi ini," kata Imran.

Terkini