Bos IBC: Hilirisasi Nikel ke Baterai Berpotensi Cuan 100 Kali Lipat

Selasa, 23 Juni 2026 | 19:35:01 WIB
IBC: Nilai Tambah Baterai Nikel Bisa Capai 100 Kali Lipat [FOTO: NET].

JAKARTA - Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia (IBC), Aditya Farhan Arif, menyatakan bahwa proses hilirisasi nikel menjadi baterai mampu menghasilkan nilai tambah hingga 100 kali lipat. 

Dengan demikian, profit dari penjualan baterai berpotensi 100 kali lebih besar dibandingkan sekadar mengekspor bijih nikel.

Aditya menerangkan, realisasi potensi tersebut sangat bergantung pada keberhasilan Indonesia dalam membangun rantai pasok industri baterai yang terintegrasi dari hulu ke hilir, serta ketersediaan pasarnya.

 "Kalau kami berhasil membangun value chain nikel sampai ke baterai end-to-end dan betul-betul terintegrasi, nilai tambah dari nikelnya sendiri itu kami prediksi bisa sampai 100 kali nickel ore," jelas Aditya dalam podcast Broad Cash Bisnis.com, dikutip Selasa (23/6/2026).

Dia menambahkan bahwa hilirisasi nikel menjadi baterai dapat dianggap sukses apabila produk akhirnya mampu diserap pasar. 

Aditya menilai industri baterai sangat bergantung pada spesifikasi dan kebutuhan konsumen akhir, berbeda dengan komoditas tambang yang dapat diproduksi dan dijual lebih fleksibel. 

Menurutnya, setiap produsen kendaraan listrik atau original equipment manufacturer (OEM) memiliki desain dan arsitektur baterai yang berbeda, sehingga produksi umumnya dilakukan setelah ada kontrak atau pesanan yang jelas.

“Kalau baterai, pabrik baterai itu memang harus menunggu demand. Kami tidak bisa bikin baterai tapi belum tahu siapa yang akan beli karena arsitektur baterai itu disesuaikan dengan end user-nya,” ujar Aditya.

Dengan karakteristik tersebut, waktu realisasi lonjakan nilai tambah 100 kali lipat tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fasilitas produksi, tetapi juga pertumbuhan pasar kendaraan listrik dan permintaan baterai global.

 “Kalau bicara nikel, peningkatan nilai tambahnya 100 kali itu terjadinya kapan akan sangat ditentukan oleh kapan market itu tersedia,” katanya.

Lebih lanjut, Aditya menuturkan bahwa pihaknya mulai membangun rantai pasok industri baterai di Karawang, Jawa Barat, dan tengah menggenjot pembangunan pabrik sel baterai. 

Pabrik milik IBC yang bekerja sama dengan Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) atau CATL dijadwalkan siap berproduksi pada Juli mendatang. IBC memilih memulai dari hilir. 

Menurut Aditya, langkah itu menjadi fondasi awal pengembangan industri baterai nasional sebelum berekspansi ke pengolahan bahan baku di bagian tengah rantai pasok. 

“Yang Juli nanti adalah yang paling downstream dulu, di baterainya. Jadi kami memang memulai dari baterainya dulu, kemudian tahun ini baru yang midstream-nya bersama Antam,” katanya.

Terkini