FAO Jadikan Filosofi Tri Hita Karana Contoh Transformasi Pertanian

Senin, 22 Juni 2026 | 21:41:01 WIB
FAO Dorong Pertanian Berkelanjutan Lewat Kearifan Lokal Tri Hita Karana [FOTO: NET].

JAKARTA - Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste mengadopsi filosofi masyarakat Bali, Tri Hita Karana, sebagai model dalam melaksanakan transformasi menuju sistem pertanian yang berkelanjutan.

“Tri Hita Karana berjalan lintas generasi dan itu contoh klasik yang kami ingin dunia menyadarinya,” kata Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, secara virtual di sela Dialog Global Transformasi Padi Berkelanjutan di Sanur, Denpasar, Senin.

Tri Hita Karana adalah kearifan lokal masyarakat Bali yang mengedepankan tiga konsep hubungan harmonis, yakni hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan Tuhan atau hubungan spiritual.

Prinsip tersebut menjadi landasan sistem pertanian di Bali, salah satunya yang terlihat di kawasan Subak Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, yang sekaligus merupakan ikon pariwisata serta situs warisan budaya tak benda UNESCO.

Rencananya, puluhan delegasi dari 12 negara di Asia dan Afrika yang mengikuti dialog tersebut akan berkunjung ke Subak Jatiluwih guna mempelajari sistem pertanian berkelanjutan, termasuk sistem irigasi pengairannya.

Ia menyampaikan bahwa ketersediaan sumber daya air merupakan salah satu tantangan krusial dalam transformasi pertanian berkelanjutan, di samping upaya menekan emisi karbon, degradasi tanah, serta adaptasi iklim.

“Praktik seperti penyiraman dan pengeringan bergantian bisa menurunkan emisi metana 20-30 persen sekaligus mengurangi konsumsi air,” ujar dia.

Selain pengelolaan air, ia menekankan tiga aspek yang berdampak signifikan dalam memajukan produksi padi rendah emisi, yaitu penggunaan varietas unggul dan sistem yang terintegrasi.

Selanjutnya, penguatan kebijakan, pembiayaan, dan insentif pasar yang mampu mendorong praktik berkelanjutan untuk diperluas, serta memastikan transformasi pertanian bersifat inklusif dengan memberdayakan perempuan, anak muda, dan kelompok rentan.

“Transformasi terjadi lebih cepat ketika negara-negara saling belajar, ketika pendekatan yang berhasil bisa diadaptasi dan ditingkatkan skalanya dan ketika tantangan diatasi secara kolektif dibandingkan dilakukan sendiri,” katanya menambahkan.

Terkini