UMKM Tertekan Barang Impor, Pelaku Usaha Hindari Kredit Bank

Senin, 22 Juni 2026 | 20:56:31 WIB
AKUMANDIRI: Pasar UMKM Tertekan Akibat Produk Impor Murah [FOTO: NET].

JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (AKUMANDIRI) Hermawati Setyorinny menyatakan bahwa pangsa pasar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini tertekan oleh barang impor, yang menyebabkan mereka cenderung menghindari pembiayaan perbankan.

"Kenapa UMKM mengambil pembiayaan bank, karena memang marketnya itu berkurang," kata Hermawati saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Menurutnya, pasar bagi pelaku UMKM saat ini harus berkompetisi dengan barang-barang impor yang harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan produk domestik. 

Oleh karena itu, lanjut Hermawati, pelaku UMKM lebih memilih menggunakan modal pribadi daripada pembiayaan eksternal karena tingginya risiko gagal bayar. Ia menegaskan bahwa peningkatan jumlah barang impor dari tahun ke tahun menjadi tantangan utama bagi industri kecil.

"Laju produk impor yang masuk ke Indonesia terus bertambah besar selama ini. Tidak ada pencegahan atau rem barang-barang impor yang memang UMKM memproduksi," ujarnya.

Hermawati berharap pemerintah dapat memberikan dukungan agar produk UMKM tidak harus bersaing langsung dengan barang impor yang memiliki biaya produksi lebih rendah. 

Ia mencontohkan, di negara lain, produk lokal mendapatkan perlindungan berupa regulasi yang membuat harga barang impor menjadi lebih mahal atau pembatasan impor untuk produk serupa.

"Kalau di luar negeri itu produk impor yang masuk harganya lebih mahal daripada produk lokal," katanya.

Di sisi lain, terdapat berbagai kendala saat UMKM berupaya mengakses perbankan. Ia mencontohkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang seharusnya tanpa agunan, namun dalam praktiknya masih sering mempersyaratkan jaminan.

"Selain itu PPN (Pajak Pertambahan Nilai) juga cukup tinggi dan ini menjadi salah satu pemicu lainnya," ucapnya.

Sebelumnya, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengungkapkan bahwa 88 persen pelaku UMKM informal lebih memilih menggunakan dana mandiri dibandingkan kredit perbankan.

"Kalau dilihat dari survei, mereka itu (UMKM) lebih suka dengan dana sendiri," kata Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani di Jakarta, Kamis (18/6).

Aviliani menambahkan bahwa preferensi penggunaan dana pribadi ini memengaruhi penyaluran kredit perbankan. Riset Perbanas mencatat adanya perlambatan, bahkan kontraksi, dalam pertumbuhan kredit UMKM selama beberapa tahun terakhir. 

Berdasarkan survei, penggunaan dana pribadi mencapai 88 persen, sedangkan 12 persen sisanya menggunakan dana eksternal, yakni perbankan (49 persen), teman atau kerabat (9 persen), lembaga keuangan mikro (32 persen), dan lainnya (11 persen).

Terkini