JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghimpun data bahwa penyaluran dana segmen produktif oleh sektor industri pinjaman daring (pindar) menyentuh angka Rp34,80 triliun atau memakan porsi 34,09 persen dari akumulasi total pembiayaan pada periode April 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman menyatakan, hambatan ekonomi beserta mutu pembiayaan wajib menjadi perhatian serius bagi industri pindar kala menyalurkan dana ke sektor produktif, seperti pelaku UMKM.
Kendati demikian, ia tetap memandang bahwa tingginya angka kebutuhan modal kerja UMKM membuat lini produktif ini memendam potensi ekspansi yang besar.
“Sebab itu, penyelenggara pindar perlu memperkuat manajemen risiko, credit scoring, serta mengoptimalkan pemanfaatan data seperti Sistem Layanan Informasi Keuangan [SLIK] OJK untuk meningkatkan kualitas penilaian pembiayaan UMKM,” ucapnya dalam lembar jawaban RDK OJK Mei 2026, dikutip pada Senin (15/6/2026).
Lebih jauh lagi, bersandarkan pandangan Agusman, rencana dari pihak eksekutif untuk mengucurkan suku bunga rendah di bawah 10 persen untuk sektor kredit mikro tidak lantas bertindak selaku substitusi langsung yang mengancam kinerja pindar.
“Karena masing-masing memiliki segmen dan karakteristik pembiayaan yang berbeda, sehingga dapat saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan pendanaan UMKM yang beragam,” tegasnya.
Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya bagi pelaku industri pindar untuk konsisten memperkokoh tata kelola manajemen risiko, optimalisasi piranti teknologi dan data, sekaligus memperluas sinergi dalam ekosistem keuangan demi mengawal mutu dan keberlanjutan penyaluran dana bagi UMKM, termasuk pelaku usaha mikro.
Sebagai informasi tambahan, pembiayaan sektor industri pindar secara menyeluruh per April 2026 menorehkan pertumbuhan di angka 26,11 persen secara tahunan (year on year/YoY) hingga menyentuh level Rp102,07 triliun. Adapun tingkat risiko kredit macet secara akumulatif (TWP90) bertengger di posisi 4,62 persen.
Di sisi lain, perusahaan teknologi finansial, PT Amartha Financial Group (Amartha) menilai bahwa peta kebutuhan serta karakteristik pelaku usaha mikro terbilang sangat variatif di masing-masing wilayah daerah.
“Karena itu, kami terus memperkuat pendekatan berbasis komunitas serta menjaga disiplin pengelolaan portofolio dengan mengacu pada praktik manajemen risiko yang prudent dan berstandar global,” ucap VP Public Relations Amartha Harumi Supit kepada Bisnis, Kamis (28/5/2026).
Adapun untuk saat ini, sektor perniagaan termasuk usaha warung bertindak selaku pangsa pasar terbesar yang ditangani oleh pihak Amartha. Meski demikian, Amartha juga melebarkan sayapnya ke sektor pertanian, peternakan, hingga kerajinan tangan.
“Tahun ini, kami berfokus menjaga kualitas pembiayaan produktif melalui pendampingan yang intensif, proses yang selektif, dan pengelolaan portfolio yang dilakukan secara disiplin dengan mengacu kepada praktik manajemen risiko yang berstandar global,” tegas Harumi.