Kisah Dokter Lulusan Undip Pimpin Uji Klinis Obat-Vaksin di Belanda

Minggu, 14 Juni 2026 | 14:28:01 WIB
Dokter Lulusan Undip Sukses Jadi Peneliti Farmasi Global di Belanda [FOTO : NET].

JAKARTA - Dokter Widagdo, MSi.Med., MSc., Ph.D. awalnya cuma berniat tinggal di luar negeri selama dua hingga tiga tahun. Kendati demikian, saat ini dirinya tercatat sudah lebih dari 10 tahun menetap di negara Belanda. Widagdo menyelesaikan studinya dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) pada tahun 2014 yang lalu. 

Dirinya juga sempat menempuh pendidikan jenjang Magister Konseling Genetik di kampus Undip. Setelah itu, ia meneruskan studi Magister Imunologi dan Penyakit Infeksi di Negeri Kincir Angin sebelum akhirnya berhasil merengkuh gelar Doktor (PhD) di bidang Virologi dari Erasmus University. Pihak FK Undip menegaskan bahwa perjalanan karier seorang dokter sejatinya tidak melulu harus berakhir di dalam ruang praktik klinis ataupun ruang kuliah.

Widagdo sejatinya diwajibkan mengikuti program penyetaraan profesi dokter yang menyita waktu hingga lima tahun di negara sasarannya tersebut. Namun, celah kesempatan justru terbuka lebar bagi dirinya untuk meniti karier di sektor riset.

Penelitian Pascadoktoral

Setelah merampungkan jenjang S3, Widagdo melangsungkan riset pascadoktoral, yakni sebuah fase penelitian mendalam yang ditempuh oleh seseorang yang baru saja meraih gelar Doktor (S3). 

Riset pascadoktoral ini berfaedah guna mengasah keahlian riset, meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah, serta merajut jejaring akademis sebagai langkah pembekalan sebelum memantapkan diri menjadi dosen atau peneliti tetap.

 Fase ini ia lalui sebelum akhirnya bergabung ke dalam program fellowship (program sokongan finansial, pelatihan, ataupun riset tingkat lanjut yang disalurkan kepada profesional, akademisi, atau peneliti demi mengasah keterampilan spesifik) di sebuah perusahaan farmasi global yang ditopang divisi penelitian tangguh.

“Saya masuk ke fellowship mereka, dan itu memulai karier saya di riset farmasi,” ujar Widagdo, dikutip dari situs FK Undip, Minggu (14/6/2026).

Pimpin Uji Klinis Global

Sepanjang tujuh tahun belakangan, poros keahliannya tertuju pada sektor vaksin. Bermodalkan rekam jejak pendidikan di bidang virologi, ia sempat terjun langsung dalam agenda pengembangan vaksin Covid-19 saat masa pandemi mulai merebak.

“Kalau ngomongin level atau kualitas pendidikan, kami sebenarnya nggak kalah dari luar negeri. Dari level pemahaman dan pengetahuan, saya tidak pernah sekalipun merasa tertinggal,” ungkapnya.

Saat ini, Widagdo beraktivitas di perusahaan farmasi global sebagai Clinical Science Lead, Associate Director at GlaxoSmithKline (GSK) serta ambil bagian dalam program pengembangan vaksin Respiratory Syncytial Virus (RSV) yang kini telah mengantongi lisensi dan dimanfaatkan di lebih dari 30 negara bagi kelompok usia senja. 

Widagdo memegang tanggung jawab selaku pemimpin bermacam uji klinis global demi pengembangan produk obat serta vaksin anyar. Dirinya bersinergi dengan tim internasional yang mengoordinasikan riset di berbagai negara guna menggaransi faktor keamanan serta efektivitas dari suatu produk sebelum memperoleh izin edar resmi.

Pengalaman yang dikantonginya selama ini menyadarkan Widagdo bahwa proses untuk menyajikan obat baru ke tengah masyarakat menuntut sebuah perjalanan yang amat panjang. Hal itu bermula dari riset laboratorium, pengujian terhadap hewan, hingga menyentuh bermacam tingkatan uji klinik serta proses evaluasi dari badan regulator internasional.

“Untuk membawa obat baru sampai bisa dipakai dokter di masyarakat itu sangat melelahkan. Investasinya besar, baik dari sisi materi maupun waktu,” ujar Widagdo.

Yakin Banyak Orang Indonesia Bisa Seperti Dirinya

Widagdo mengutarakan bahwa dirinya menaruh keyakinan jika banyak lulusan asal Indonesia yang dibekali kapabilitas untuk merambah karier internasional. Kendati demikian, kanal informasi serta peluang yang tersedia dirasa masih terbatas.

“Saya pikir banyak orang Indonesia yang bisa berkarir di posisi saya. Ini hanya masalah akses, kesempatan, dan pengetahuan bahwa jalur karier seperti ini ada,” ujarnya.

Dirinya menitipkan dua buah wejangan krusial bagi para mahasiswa. Pertama, sektor pendidikan merupakan bentuk investasi paling berharga yang bisa dipunyai oleh seseorang.

 Kedua, para mahasiswa tidak perlu diliputi rasa takut untuk mengambil pilihan jalan yang tidak biasa selama hal tersebut konsisten mendatangkan manfaat dan dijalani dengan totalitas dedikasi.

“Dunia itu besar. Jangan berpikir kecil. Kalau kamu tidak melakukan hal yang sama seperti teman-teman sebaya, selama kamu melakukan sesuatu yang kamu cintai dan memberi manfaat bagi orang di sekitarmu, itu tetaplah jalan yang baik,” pesannya.

Walaupun telah sekian lama membangun karier di luar negeri, sampai dengan saat ini dirinya terpantau masih aktif memberikan kuliah di FK Undip tatkala mempunyai waktu luang.

Terkini