CJFACE 2026: Genjot Pasar Domestik Furnitur Jepara & Ekosistem Halal

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:42:32 WIB
BI Jateng menggelar CJFACE 2026

JAKARTA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Jepara, serta Jepara International Furniture Buy Week (JIFBW) untuk menyelenggarakan pameran Central Java Furniture & Carving Expo (CJFACE) 2026. Eksibisi industri kerajinan wilayah tersebut dilangsungkan sejak tanggal 13 hingga 16 Juni 2026 di Atrium DP Mall, Kota Semarang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho mengungkapkan bahwa keterlibatan Bank Indonesia dalam agenda ini bertujuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah agar lebih berkesinambungan serta inklusif. 

Nugroho menambahkan kalau komoditas mebel adalah salah satu produk ekspor andalan dari Jawa Tengah, di mana sebagian besar pelakunya merupakan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Apabila kami ingin membangun pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, ini adalah sektor yang tepat sekali furniture karena daya serapnya terhadap tenaga kerja yang sangat tinggi. Dan ini juga bisa mendukung faktor lainnya yaitu ekosistem halal di Jawa Tengah," ujar Nugroho, dalam acara pembukaan CJFACE 2026 pada Sabtu (13/6/2026).

Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju Festival Jateng Syariah (FAJAR) pada Agustus 2026 serta Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2026 yang akan datang pada September nanti.

 Langkah penguatan terhadap ekosistem tersebut dipercaya dapat memicu pertumbuhan ekonomi daerah yang merata, inklusif, adil, dan berkelanjutan lewat produk mebel yang berbasis halal.

Nugroho menjabarkan bahwa pengembangan ekonomi syariah yang dijalankan oleh BI tidak semata-mata menyasar pada sektor hilir produksi saja.

 BI secara kontinu mengumpulkan para pelaku UMKM untuk diberikan pembinaan serta program peningkatan kapasitas (capacity building) agar mereka memiliki kemampuan untuk mengelola bisnisnya dengan lebih profesional.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara, Anjar Jambore Widodo menjelaskan kalau pameran ini membuka peluang baru yang bakal ikut menentukan masa depan industri mebel asal Jepara. 

Kabupaten Jepara sendiri memang sudah lama tersohor sebagai salah satu sentra industri furnitur terbesar di tanah air yang mengantongi reputasi global hingga ke ranah internasional.

Sektor furnitur kini resmi mengukuhkan diri sebagai bidang industri terbesar di Kabupaten Jepara dengan kepemilikan 892 perusahaan aktif serta akumulasi nilai investasi yang menembus angka lebih dari Rp1,17 triliun per tahun ini.

 Walaupun menunjukkan grafik pertumbuhan investasi yang begitu masif, Anjar mengingatkan kalau tantangan pasar di masa mendatang bakal bertambah kompleks lantaran persaingan global tidak bisa lagi hanya mengandalkan faktor harga murah dan besarnya kapasitas produksi semata.

Menurut Anjar, kekuatan bersaing dari industri masa depan bakal sangat bergantung pada aspek kreativitas, desain, inovasi, aspek keberlanjutan lingkungan, penguasaan teknologi terkini, hingga kejelian dalam mengamati pergerakan tren pasar global. 

Oleh sebab itu, para pelaku usaha di Kabupaten Jepara diimbau untuk mulai menggeser strategi bisnis dengan menjual kreativitas, kekuatan dari desain produk, narasi budaya setempat, serta identitas lokal yang autentik dan kuat.

"Saya ingin memberikan apresiasi atas inisiatif BI dalam mendorong penguatan Halal Value Chain melalui sektor furnitur dan kerajinan. Konsep ekonomi syariah memang harus berkembang. Tidak hanya sektor mamin, tetapi juga ke sektor industri kreatif, furnitur, perdagangan, dan berbagai sektor produktif lainnya," kata Anjar.

Penyelenggaraan CJFACE 2026 sengaja dikonsep dengan bermacam-macam program strategis untuk memikat perhatian para pembeli domestik sekaligus mitra bisnis dari kalangan institusi. 

Acara ini menyuguhkan program B2B/B2C networking event, fasilitas konsultasi desain tanpa biaya, penjualan langsung dari pabrik, edukasi mengenai konsep halal-oriented furniture, hingga demonstrasi pembuatan kerajinan secara langsung (live crafting). 

Melalui wadah kolaborasi tersebut, para calon pembeli serta penanam modal bisa menjajaki potensi transaksi perdagangan, mendapati penyuplai potensial, sekaligus memahami keunggulan dari produk furnitur yang berorientasi halal.

Selain berfokus pada aktivitas komersial, pameran ini turut menghadirkan kegiatan Edukasi Eksyar yang menyasar para pengajar perguruan tinggi di Jawa Tengah demi menjadi mitra dalam penyebaran konsep dasar ekonomi syariah serta penguatan ekosistem halal. 

Sebagai jalan keluar atas kendala modal usaha, diselenggarakan juga program business matching yang memfasilitasi pertemuan langsung antara pelaku UMKM dengan pihak perbankan syariah guna mempermudah konsultasi sekaligus penjajakan pembiayaan produktif yang selaras dengan keperluan perluasan bisnis mereka.

Terkini