JAKARTA — PT Supra Primatama Nusantara (Biznet) mengakui dinamika ekonomi saat ini memengaruhi berbagai aspek operasional, termasuk biaya bahan baku dan perangkat jaringan serat optik. Walaupun demikian, perusahaan tetap berkomitmen untuk terus meningkatkan penggelaran jaringan karena beberapa pertimbangan strategis.
Senior Manager Marketing Biznet, Adrianto Sulistyo, menuturkan bahwa perusahaan telah melakukan persiapan komponen jaringan lebih awal sehingga proyek pembangunan infrastruktur tetap berjalan sesuai jadwal. Langkah ini juga didasarkan pada kebutuhan bisnis, antusiasme pasar, serta penentuan target pasar yang tepat.
Menurut Adrianto, Biznet terus memprioritaskan optimalisasi teknologi serta pengembangan jaringan yang efektif demi menjangkau target pasar yang spesifik.
“Tentunya kami melihat sesuai demand/kebutuhan kualitas Internet yang tinggi di tiap area,” ujar Adrianto.
Ia menjelaskan bahwa kelancaran pembangunan infrastruktur Biznet berkat ketersediaan komponen yang sudah disiapkan sebelumnya, guna menjaga kualitas layanan bagi pelanggan.
Di samping menambah cakupan wilayah, Biznet juga memperkuat infrastruktur melalui penambahan kantor cabang agar mampu melayani pelanggan secara lebih dekat dan responsif.
Terkait tarif, Adrianto menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada penyesuaian harga.
“Bahkan di beberapa kota kedua dan ketiga, harga untuk layanan perumahan kami, Biznet Home, kami buat lebih terjangkau mengikuti daya beli di kota-kota tersebut,” ungkap Adrianto.
Ia menegaskan bahwa situasi ini tidak menurunkan kualitas layanan internet Biznet karena seluruh operasional didukung oleh infrastruktur yang andal serta teknologi modern yang stabil.
Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif, mengakui adanya kenaikan harga serat optik belakangan ini. Menurutnya, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memicu lonjakan harga perangkat karena tingginya ketergantungan pada komponen impor.
“Dampaknya yang dikuatirkan, expansi di beberapa perusahaan pasti akan terganggu dan akan fokus dengan coverage yang sudah ada sekarang,” tutur Arif.
Sementara itu, Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) mengonfirmasi bahwa kenaikan harga bahan baku, termasuk pelindung kabel High-Density Polyethylene (HDPE), berpengaruh langsung terhadap pembangunan jaringan.
Ketua Umum APJATEL, Jerry Mangasas Swandy, menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian serius industri telekomunikasi karena mayoritas perangkat teknologi informasi (TI) dan sarana jaringan di Indonesia masih mengandalkan produk impor.
Jerry menyebutkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi menaikkan harga berbagai perangkat seperti server, perangkat jaringan, hingga komponen pendukung lainnya.
“Selama satu tahun terakhir harga memang sempat membaik setelah meredanya krisis chip global, namun pelemahan mata uang dapat menekan biaya impor,” kata Jerry.
Bagi distributor dan integrator, pelemahan kurs seringkali langsung berdampak pada biaya pengadaan dengan estimasi kenaikan harga antara 5% hingga 10%. Untuk sektor telekomunikasi, ketergantungan pada komponen impor lebih besar, mencakup kabel fiber optik, perangkat aktif seperti OLT, hingga berbagai peralatan teknis lainnya.
Jerry menjelaskan bahwa ketergantungan pada bahan baku atau modul impor menyebabkan pelemahan rupiah meningkatkan biaya pembangunan atau perluasan jaringan. Estimasi penyesuaian harga di industri berada pada kisaran 5% hingga 12%, bergantung pada vendor, asal produk, dan metode pembayaran.
Walaupun biaya tenaga kerja konstruksi tidak terdampak langsung oleh kurs, kontraktor sering menyesuaikan tarif akibat kenaikan harga material, penggantian alat kerja impor, serta perubahan biaya operasional.
“Hal ini berpotensi mendorong peningkatan biaya total proyek meski proporsinya lebih kecil dibanding kenaikan pada perangkat,” jelas Jerry.
APJATEL menyarankan langkah mitigasi seperti optimalisasi stok, perencanaan pengadaan, negosiasi skema pembayaran dengan vendor global, serta peningkatan penggunaan komponen lokal.
“Apjatel juga mendorong seluruh anggota untuk menjaga kualitas layanan dan memastikan pembangunan infrastruktur telekomunikasi tetap berjalan, karena konektivitas adalah kebutuhan dasar masyarakat dan fondasi ekonomi digital,” pungkas Jerry.