Industri Pindar Tembus Rp1.388 Triliun, Sektor UMKM Jadi Fokus Utama

Rabu, 10 Juni 2026 | 23:18:31 WIB
Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia Firlie Ganinduto. (Sumber : NET)

JAKARTA - Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) melaporkan bahwa industri pinjaman daring (pindar) telah mencatatkan total pembiayaan kumulatif melebihi Rp1.388 triliun.

Dari jumlah keseluruhan tersebut, sekitar 38% sampai 40% dana dialokasikan kepada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia Firlie Ganinduto menyatakan bahwa industri pindar tidak hanya beroperasi sebagai penyalur dana, melainkan juga berfungsi sebagai gerbang inklusi keuangan bagi masyarakat yang sebelumnya belum mendapatkan akses layanan perbankan.

Berdasarkan data industri, total akumulasi penyaluran pinjaman sudah melampaui Rp1.388 triliun dengan lebih dari 169 juta peminjam aktif yang terlayani.

Di samping itu, tercatat lebih dari 90% nasabah melakukan pengembalian pinjaman sesuai dengan jadwal perjanjian.

“Pindar adalah jembatan bagi jutaan orang yang selama ini tidak punya rekam jejak perbankan dan kini bisa mendapatkan modal untuk tumbuh,” ujar Firlie dalam keterangan resmi, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, banyak peminjam menggunakan dana tersebut untuk menambah inventaris barang dagangan, memenuhi kebutuhan pendidikan, hingga menjaga stabilitas arus kas bisnis sebelum akhirnya bisa melunasi pinjaman tanpa hambatan.

Firlie menambahkan bahwa AFTECH berkomitmen memastikan setiap penyelenggara pindar yang bergabung menjalankan operasional dengan tata kelola yang ketat, transparan mengenai bunga dan biaya, serta menerapkan standar perlindungan konsumen yang baik.

“Kepercayaan adalah satu-satunya fondasi yang membuat industri ini bisa terus tumbuh dan relevan. AFTECH tidak hanya hadir sebagai asosiasi administratif, tetapi juga menjadi mitra aktif bagi setiap anggota dalam membangun kepercayaan kepada pengguna, regulator, dan masyarakat luas,” katanya.

Pada tingkat platform, sejumlah pelaku industri berpendapat bahwa akses pembiayaan digital sangat membantu pelaku UMKM untuk berkembang dan masuk ke dalam ekosistem keuangan formal.

Direktur Utama Easycash Nucky Poedjiardjo menjelaskan bahwa pihaknya melihat banyak peminjam yang awalnya mengakses modal untuk usaha kecil, kemudian berhasil memperluas skala bisnis mereka.

“Yang kami lihat adalah bagaimana seorang borrower yang pertama kali meminjam untuk stok dagangan kecil, dua tahun kemudian sudah punya beberapa karyawan dan mulai masuk ke ekosistem perbankan formal. Pindar bukan titik akhir perjalanan keuangan mereka, kami adalah titik masuknya,” ujar Nucky.

Seirama dengan hal itu, Direktur PT Sahabat Mikro Fintek Yonathan Gautama menyebut bahwa pengaruh pembiayaan produktif tidak hanya dirasakan oleh peminjam saja, namun turut memberikan efek ganda terhadap perekonomian lokal.

“Ada sesuatu yang sangat kuat yang terjadi ketika seseorang yang tidak pernah dianggap layak oleh sistem keuangan formal, untuk pertama kalinya mendapatkan kepercayaan berupa modal,” katanya.

Menurut Yonathan, pembiayaan produktif berperan dalam mendorong penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan vendor lokal, serta meningkatkan aktivitas ekonomi komunitas, terutama di luar Pulau Jawa.

Saat ini, AFTECH menaungi sembilan penyelenggara pindar aktif, yaitu Easycash, PT Sahabat Mikro Fintek, AdaKami, Amartha, Julo, Indosaku, PinjamDuit, LumbungDana, serta Danai.

AFTECH juga mendorong anggotanya untuk senantiasa mempublikasikan data dampak secara rutin, termasuk tingkat pengembalian pinjaman, jumlah UMKM yang didanai, hingga hasil audit penagihan guna mendukung transparansi industri.

Terkini