Indonesia Siap Terima Satu Prototipe Jet Tempur KF-21 Boramae

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:34:31 WIB
Pesawat tempur KF-21 Boramae [SUMBER : NET]

JAKARTA - Pihak Indonesia tengah bersiap-siap untuk mendatangkan satu unit prototipe jet tempur KF-21 Boramae asal Korea Selatan menyusul tuntasnya pembayaran kontribusi dalam proyek pembuatan pesawat tempur mutakhir tersebut.

 Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, memaparkan bahwa pengerjaan bersama proyek KF-21 yang sudah berjalan selama belasan tahun akhirnya selesai pada Juni 2026. 

Melalui kesepakatan terbaru, salah satu dari total enam unit prototipe KF-21 yang diproduksi akan diserahkan kepada pihak Indonesia. 

“Prototipe dari enam pesawat KF-21 itu sudah disepakati dan akan diserahkan ke Indonesia yang pesawat prototipe dari enam, satu itu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa direalisasikan,” kata Cecep dalam acara Indonesian Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Korea Selatan, Selasa (10/6/2026).

 Cecep menambahkan, setelah fase rancang bangun bersama ini rampung, agenda berikutnya adalah pembicaraan mengenai utilisasi dari hasil proyek ini, termasuk menjajaki peluang-peluang kemitraan baru ke depan. “Bagaimana ke depannya, tentunya kami menyerahkan kepada pengambil keputusan di Indonesia,” sambungnya.

Di mata Cecep, Indonesia berkedudukan sebagai salah satu rekan strategis Korea Selatan pada sektor industri militer. Sinergi kedua negara pada bidang ini sudah terbangun selama puluhan tahun, di mana Indonesia menjadi pembeli perdana bermacam produk pertahanan buatan Korea sejak tahun 1979. 

Memasuki tahun 2003, Indonesia mendatangkan jet latih KT-1 Woongbi yang sekarang dioperasikan oleh Tim Jupiter TNI Angkatan Udara.

 Menginjak tahun 2011, Indonesia kembali membeli jet tempur yang sering dijuluki Mini F-16. Kolaborasi militer kedua negara terus berlanjut di tahun 2017 lewat agenda pembuatan kapal selam. 

Di samping pembelian alutsista, Cecep menggarisbawahi bahwa aspek alih teknologi beserta peningkatan mutu sumber daya manusia memegang peranan krusial dalam sinergi pertahanan Indonesia-Korea Selatan.

 “Korea memang belajar industri pertahanan dari Amerika. Dan kami belajar industri pertahanan yang sudah dipelajari Korea dari Amerika ke Korea. Dan banyak hal yang off the record teman-teman Korea menyampaikan ke kami bagaimana cara memperoleh teknologi dengan baik dan less sensitive,” kata Cecep. 

Di tempat berbeda, Ketua Asosiasi Persahabatan Anggota Parlemen Korea Selatan-Indonesia, Kim Gi-Hyeon, berpendapat bahwa industri pertahanan Korea Selatan kala ini tergolong yang paling mutakhir secara teknologi global dengan penawaran harga yang cukup bersaing.

Ia memaparkan bahwa beragam sistem persenjataan buatan Korea Selatan sudah membuktikan kapabilitasnya dalam sederet eskalasi global, seperti pertempuran Rusia-Ukraina serta ketegangan antara Iran dan Israel. 

“Saya percaya bahwa akan sangat bermanfaat bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan Korea. Korea Selatan tidak hanya menyediakan transfer teknologi, tetapi juga turut mengembangkan dan melatih sumber daya manusia untuk mengoperasikan serta mengelola sistem-sistem tersebut,” kata Kim.

 Sebelumnya, Indonesia dan Korea Selatan sudah mematangkan kesepakatan serah terima satu prototipe KF-21 tipe kursi tunggal yang difungsikan untuk rangkaian tes validasi, seperti proses pengisian bahan bakar saat terbang. 

Nilai paket pengiriman alutsista tersebut diperkirakan menyentuh angka 600 miliar won Korea Selatan, yang meliputi unit jet tempur senilai 350 miliar won ditambah akumulasi biaya pengerjaan lainnya.

Terkini