jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempertegas keseriusannya dalam mempercepat akselerasi transformasi industri domestik lewat penguatan jalinan kemitraan dalam perhelatan BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 yang digelar di Xiamen, China.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melalui penjelasannya di Jakarta, Selasa mengemukakan bahwa Indonesia melihat pergeseran industri global sebagai sebuah kesempatan yang wajib disambut lewat perluasan kolaborasi serta pematangan teknologi industri masa depan.
“Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama dalam menghadapi transformasi industri global melalui pengembangan teknologi cerdas, standar industri masa depan, serta penguatan sumber daya manusia industri,” urai Agus.
Dipaparkan olehnya, topik utama yang diusung dalam BRICS PartNIR Forum 2026 pada pengujung Mei lalu tersebut dianggap selaras dengan kompas transformasi sektor industri dunia yang sekarang sedang bergulir.
Pertumbuhan kecerdasan artifisial, mekanisasi robotika, industrial internet, hingga integrasi sistem digital berbasis big data terbukti membawa pergeseran fundamental pada tatanan manufaktur dunia, mulai dari alur pengolahan produk, logistik rantai pasok, sampai kekuatan saing pelaku industri.
Bagi tanah air, penguatan ekosistem manufaktur berbasis digital menjadi elemen krusial demi memelihara stabilitas industri nasional sekaligus mendongkrak capaian nilai tambah ekonomi.
Langkah strategis ini juga berjalan beriringan dengan penerapan cetak biru Making Indonesia 4.0 yang memacu pergeseran sektor industri melalui digitalisasi, perwujudan industri ramah lingkungan, optimalisasi hilirisasi, serta adopsi peranti teknologi modern di sektor manufaktur.
Lebih jauh lagi, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy menggarisbawahi urgensi BRICS PartNIR selaku ruang kolaborasi bagi jajaran negara berkembang.
“Indonesia memandang BRICS PartNIR sebagai platform penting untuk memperkuat dialog kebijakan, kerja sama teknologi, kemitraan industri, dan pengembangan kapasitas antarnegara berkembang,” tutur Tri.
Tri mengimbuhkan, perhelatan ini menjadi medium yang tepat guna mengokohkan relasi industri, memperlebar sayap kemitraan teknologi, sekaligus membentuk kapasitas industri nasional di tengah laju akselerasi revolusi industri gelombang baru.
Dirinya menilai sinergi di antara negara-negara berkembang memegang andil krusial dalam menciptakan iklim pertumbuhan industri yang lebih merata dan berkelanjutan.
Lewat wadah BRICS PartNIR, negara-negara anggota beserta mitra strategis dapat meningkatkan keterpaduan dalam pengembangan aspek teknologi, inovasi sektor industri, hingga peningkatan mutu SDM.
Di dalam forum itu, Indonesia menitikberatkan tiga pilar utama bagi arah pengembangan industri masa depan, yaitu program digitalisasi serta pembangunan pabrik pintar (smart factory), peralihan menuju industri hijau berbasis pasokan energi bersih, serta pemantapan inovasi dan kapabilitas SDM industri.
Ketiga poin tersebut dipandang sebagai fondasi krusial dalam merancang sektor manufaktur yang fleksibel terhadap perubahan dan berdaya saing kuat.
Kehadiran Indonesia pada BRICS PartNIR Forum 2026 ini juga semakin diperkuat oleh pencapaian gemilang delapan tim nasional yang berhasil menembus babak final dalam ajang BRICS Industrial Innovation Contest Global Final 2026.