Strategi Grab Hadapi Ketidakpastian Ekonomi di Semester II/2026

Selasa, 09 Juni 2026 | 23:16:48 WIB
CEO Grab.

JAKARTA - Sektor dunia usaha dihadapkan pada tantangan yang kian rumit saat memasuki paruh kedua tahun 2026.

 Ditengah-tengah perlambatan laju ekonomi regional, pergolakan geopolitik, serta pergeseran perilaku pasar yang bergerak dinamis, pelaku industri dituntut untuk melahirkan terobosan baru demi mengawal keberlanjutan pertumbuhan bisnis.

CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengungkapkan bahwa kans untuk melakukan ekspansi usaha sebenarnya masih terbuka lebar. 

Kendati demikian, ruang gerak untuk memacu pertumbuhan dengan metode konvensional kini semakin terbatas, sehingga korporasi wajib bertindak lebih selektif dalam merumuskan langkah taktisnya.

"Apapun yang terjadi, kita tetap harus bertumbuh. Nah, di Grab, kami percaya bahwa peluang pertumbuhan masih sangat terbuka,” ujar Neneng dalam Grab Business Forum 2026 bertajuk The Next Chapter, Scale Smarter, Execute Faster di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

“Namun, ruang untuk tumbuh itu dengan cara yang lama semakin sempit," tambah dia.

Menurut pandangannya, dinamika tersebut menuntut para nakhoda perusahaan untuk menelurkan kebijakan yang lebih tajam dan disiplin.

 Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, perusahaan tidak lagi bisa bertumpu pada pola ekspansi yang serupa dengan beberapa tahun lalu.

"Nah, dalam situasi seperti ini, pemimpin perusahaan tentunya perlu berpikir lebih tajam dan lebih disiplin tentunya tentang bagaimana cara kita bertumbuh," katanya.

Merespons kondisi itu, Grab mengajak dunia usaha untuk menerapkan metode yang lebih terukur dalam menangkap setiap peluang ekspansi. 

Menurut Neneng, korporasi perlu memetakan skala prioritas secara lebih presisi, mempercepat jalannya eksekusi, serta menjamin bahwa tiap terobosan bisnis mampu memberikan dampak riil.

"Peluang tersebut perlu dikejar dengan cara yang lebih disiplin. Bagaimana kita memilih prioritas dengan lebih tajam, mengeksekusi dengan lebih cepat, dan memastikan bahwa setiap inisiatif itu benar-benar berdampak," katanya.

Neneng menegaskan bahwa konsep berpikir tersebut diimplementasikan oleh Grab lewat jargon strategi scale smarter dan execute faster

Bagi internal perusahaan, scale smarter bermakna memacu pertumbuhan dengan visi yang lebih jernih, menyasar sektor bisnis yang benar-benar memberikan nilai tambah, mengoptimalkan pengelolaan data, serta menempatkan sumber daya secara lebih akurat.

"Inilah yang kami maksud dengan scale smarter and execute faster. Bagi Grab, scale smarter berarti bertumbuh dengan pilihan yang lebih jelas, memilih area yang benar-benar menciptakan nilai, tentunya dengan data, kemudian mengalokasikan sumber daya dengan lebih presisi, dan memastikan bahwa pertumbuhan tidak menambah kompleksitas yang justru akan memperlambat bisnis," ujar Neneng.

Di sisi lain, aspek execute faster menitikberatkan pada kompetensi perusahaan dalam menerjemahkan rancangan strategi ke dalam operasional harian dengan sokongan teknologi. 

Optimalisasi kecerdasan buatan (AI) serta otomatisasi dipandang sebagai instrumen kunci untuk mendongkrak produktivitas sekaligus mempercepat perumusan keputusan bisnis.

"Nah, execute faster berarti bagaimana menerjemahkan strategi menjadi eksekusi sehari-hari melalui integrasi teknologi, termasuk AI dan automation, untuk mendukung produktivitas, visibilitas, kontrol yang lebih baik, serta pengambilan keputusan yang lebih cepat berdasarkan data," katanya.

Neneng menggarisbawahi bahwa pemanfaatan teknologi jangan sekadar dijadikan pajangan inovasi di atas kertas.

 Teknologi wajib mampu menyokong perusahaan dalam bekerja lebih produktif, menekan pengeluaran operasional, serta menyajikan pengalaman layanan yang lebih prima bagi para konsumen.

"Teknologi itu bukan hanya hadir sebagai inovasi di atas kertas, tetapi juga harus membantu tim untuk bekerja lebih produktif, membantu perusahaan mengelola biaya dengan lebih jelas dan lebih efisien, serta membantu konsumen merasakan layanan yang lebih konsisten. Konsumen sekarang itu ekspektasinya sangat tinggi," ujarnya.

Menurut Neneng, kesuksesan dunia usaha dalam mengarungi gejolak ekonomi tidak hanya bertumpu pada fleksibilitas perusahaan dalam beradaptasi, namun juga memerlukan jalinan sinergi yang lebih kokoh antara pihak pemerintah, pelaku industri, dan ekosistem teknologi.

"Karena pada akhirnya, pertumbuhan yang lebih kuat membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah dan pelaku usaha, antara teknologi dan operasional, serta antara strategi dan eksekusi sehari-hari," tegas Neneng.

Terkini