Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026

Selasa, 09 Juni 2026 | 23:15:43 WIB
Berikut prediksi dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (9/6/2026).

jakarta - Prediksi serta dinamika pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS pada sesi perdagangan hari ini, Selasa (9/6/2026), diperkirakan akan mengalami fluktuasi namun berpotensi ditutup melemah pada kisaran harga Rp18.200 sampai Rp18.350 per dolar AS.

Menilik data dari TradingView, mata uang Garuda ditutup merosot sebesar 0,75% menuju posisi Rp18.170 per dolar AS pada akhir sesi perdagangan hari Senin (8/6/2026).

 Penurunan nilai rupiah ini terjadi bersamaan dengan pelemahan sebagian besar mata uang di wilayah Asia terhadap dolar AS. 

Mata uang yuan China tercatat melemah 0,27%, dolar Taiwan turun 0,01%, ringgit Malaysia merosot 1,12%, baht Thailand melemah 0,24%, dolar Hong Kong turun 0,03%, serta yen Jepang mengalami koreksi sebesar 0,04%.

Di sisi lain, terdapat sejumlah mata uang regional yang terpantau masih sanggup bergerak menguat di hadapan dolar AS, seperti won Korea Selatan yang naik 1,77%, rupee India menguat 0,76%, dan peso Filipina yang naik sebesar 0,09%. Sementara itu, pergerakan dolar Singapura terpantau cenderung mendatar.

Menurut pandangan Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, tertekannya nilai rupiah disebabkan oleh meningkatnya sikap risk-off di pasar global, penguatan indeks dolar AS, serta ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu para investor untuk beralih ke aset-aset aman (safe haven).

Sedangkan dari faktor domestik, ia menilai rupiah masih terbebani oleh penurunan kepercayaan pasar. 

Ditambah lagi, penyusutan cadangan devisa Indonesia turut menjadi sentimen kurang menguntungkan yang menahan laju pergerakan mata uang nasional.

"Rupiah melemah cukup besar di tengah sentimen risk-off global dan penguatan dolar AS. Dari domestik, sentimen yang berkembang masih berkaitan dengan krisis kepercayaan pasar serta menurunnya cadangan devisa," ujarnya.

Lukman memproyeksikan bahwa tekanan pada mata uang rupiah masih akan berlanjut dalam sesi perdagangan Selasa (9/6/2026). 

Untuk faktor internal, sentimen negatif dari dalam negeri diprediksi masih membayangi pelaku pasar, sementara dari sektor eksternal, para investor bakal mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah yang tampaknya kian menjauh dari kesepakatan damai.

Selain itu, maraknya aksi jual di pasar ekuitas global yang dipicu oleh koreksi pada saham-saham sektor teknologi juga berisiko menambah beban bagi aset-aset berisiko, termasuk rupiah.

Meskipun demikian, Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) berpendapat bahwa pelemahan kurs rupiah serta koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak serta-merta mereduksi daya pikat Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang di tengah pusaran ketidakpastian ekonomi dunia.

Di kala tekanan ekonomi global melanda, HKI justru mengendus adanya peluang bagi Indonesia untuk menjaring lebih banyak modal asing seiring langkah sejumlah korporasi multinasional yang tengah mengkaji ulang jaringan rantai pasok global mereka. 

Fokus utamanya, menurut Ma'ruf, bukanlah panik merespons fluktuasi pasar, melainkan memastikan bahwa investasi dapat mengalir masuk dan terealisasi secara lebih cepat.

Langkah simplifikasi regulasi, percepatan proses perizinan, penyelarasan kebijakan antara pusat dan daerah, kepastian tata ruang, akselerasi pasokan energi, serta pembenahan kualitas infrastruktur bakal menjadi penentu utama dalam memenangi perebutan investasi global.

"Investor pada dasarnya mencari tiga hal, kepastian, kecepatan, dan kemudahan. Ketika ketiga hal tersebut dapat diberikan secara konsisten, maka Indonesia akan tetap kompetitif meskipun dunia sedang menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik," kata Ma'ruf dalam keterangannya, dikutip Senin (8/6/2026).

Pada kesempatan yang sama, HKI pun mengapresiasi kebijakan yang ditempuh pemerintah, Bank Indonesia, serta otoritas keuangan yang senantiasa menjaga stabilitas sistem keuangan domestik sekaligus mendongkrak daya tarik aset-aset nasional demi memelihara kepercayaan pasar.

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH - TradingView

16:05 WIB – Rupiah Ditutup pada Level Rp18.000 per Dolar AS Mata uang rupiah akhirnya ditutup bergerak menguat pada sesi perdagangan Selasa (9/6/2026) ke posisi Rp18.000 per dolar AS pasca langkah Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan BI Rate ke angka 5,5%.

 Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah bertengger di zona hijau dengan kenaikan 170 poin atau menguat 0,94% ke Rp18.000 per dolar AS. 

Penguatan rupiah ini searah dengan laju mata uang Asia lainnya seperti yuan China yang naik 0,19%, dolar Hong Kong menguat 0,01%, yen Jepang turun 0,01%, serta won Korea yang terapresiasi 0,38%. Diikuti pula oleh dolar Singapura yang naik 0,16%, baht Thailand turun 0,12%, dan dolar Taiwan merosot 0,03%.

09:20 WIB – Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.165 per Dolar AS Nilai tukar rupiah mengawali pagi dengan pelemahan sebesar 0,12% ke level Rp18.165 per dolar AS pada pembukaan sesi perdagangan Selasa (9/6/2026). Di sisi lain, indeks dolar terpantau melemah 0,09% menuju posisi US$99,98.

Terkini